Selasa

Halaqah 22 | Pembahasan QS An Nisa 48

 

Halaqah 22 | Pembahasan QS An Nisa 48

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-22 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Muallif rahimahullāh mendatangkan firman Allāh ﷻ, yang ada di dalam surat An-Nisā’ ayat 48:

وَقَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ ۙ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Dan firman Allāh ﷻ: “Sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa syirik, dan masih mengampuni dosa yang lain, bagi siapa yang Dia kehendaki.”

Di dalam ayat ini, Allāh ﷻ mengabarkan kepada kita. Dan Dia-lah Al-Ghafūrur Rahīm, Dia-lah Yang Maha Mengampuni lagi Maha Penyayang, yang mengampuni banyak dosa. Tapi Allāh ﷻ ketika berbicara tentang orang yang menyekutukan-Nya, ternyata Allāh mengabarkan: Inna Allāha lā yaghfiru an yushraka bihi — sesungguhnya Allāh tidak mengampuni orang yang menyekutukan-Nya.

Ini menunjukkan bahwa dosa syirik adalah dosa yang sangat besar. Sehingga Allāh ﷻ, Dia-lah Yang Maha Pengampun, tidak mengampuni orang yang melakukan kesyirikan tersebut. Kalau seandainya syirik ini bukan dosa yang sangat besar, tentu Allāh ﷻ akan mengampuninya. Tapi karena ia adalah dosa yang sangat besar, kedzaliman yang sangat besar kepada Allāh, maka Allāh ﷻ tidak mengampuni kesyirikan tersebut.

Dan yang dimaksud dengan pengampunan dosa adalah dihilangkan dampak dari dosa tersebut. Kita tahu bahwa akibat dari dosa adalah adzab, baik di dunia maupun di akhirat. Di sana ada dampak dari dosa. Orang yang diampuni oleh Allāh ﷻ dosanya, maka maksudnya adalah dihilangkan darinya dampak dari dosa tersebut.

Kalau seandainya dia harus, atau awalnya karena dia melakukan dosa ini mendapat hukuman demikian dan demikian, ketika dia mendapatkan ampunan dari Allāh, maka dihilangkan dampaknya akibat dari dosa tersebut. Dan kita sangat butuh dengan maghfirah ini. Kita ingin dan memohon kepada Allāh ﷻ, dengan banyaknya dosa yang kita lakukan, supaya Allāh ﷻ mengampuni dosa kita dan menghilangkan dampak dari dosa-dosa tersebut.

Karena kalau dampak dari dosa tersebut masih ada, maka dia akan mendapatkan adzab dan mendapatkan dampak yang tidak baik di dunia maupun di akhirat. Kita sangat membutuhkan maghfirah Allāh ﷻ. Tapi ternyata, apa yang sangat diidam-idamkan manusia berupa ampunan dosa ini, Allāh tidak berikan kepada orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa syirik.

Yang dimaksud dengan tidak mengampuni dosa syirik di sini adalah bagi orang yang meninggal dunia dan bertemu dengan Allāh ﷻ dalam keadaan membawa dosa itu dan tidak bertaubat kepada Allāh, bertemu dengan Allāh ﷻ dalam keadaan membawa dosa syirik tadi maka Allāh ﷻ tidak akan mengampuni dosa tersebut.

Adapun apabila dia bertaubat di dunia, memohon ampun kepada Allāh dengan taubat nasuhah dari kesyirikan tadi kemudian Allāh ﷻ mengampuni, maka Allāh ﷻ akan menghilangkan dampaknya di dunia maupun di akhirat, sehingga bersih dia dari kesyirikan dan tidak diadzab oleh Allāh ﷻ dengan sebab kesyirikan. Kalau dia sudah bertaubat kepada Allāh, maka Allāh akan mengampuni. Nabi ﷺ mengatakan

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

Orang yang bertaubat dari sebuah dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.”

Dan Allāh ﷻ juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Sesungguhnya Allāh mengampuni seluruh dosa. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53)

Jadi kalau dia masih hidup lalu bertaubat kepada Allāh, itu perkara lain. Yang dibicarakan di sini adalah orang yang meninggal dunia dalam keadaan membawa syirik dan tidak bertaubat ketika hidup. Maka orang seperti itu, Allāh tidak akan mengampuni dosa tersebut.

Dan yang dimaksud dengan syirik di sini mencakup syirik kecil maupun syirik besar. Keduanya. Syirik kecil seperti orang mengatakan Mā syā’ Allāh wa syi’ta atau bersumpah dengan selain nama Allāh, atau menjadikan tamimah sebagai sebab dan seterusnya maka Allāh ﷻ tidak akan mengampuni dosa itu kalau dia meninggal dalam keadaan tidak bertaubat. Demikian pula orang yang melakukan syirik besar, tidak akan diampuni oleh Allāh ﷻ kalau dia meninggal dunia membawa dosa syirik besar dan belum bertaubat kepada Allāh ﷻ.

Adapun orang yang melakukan syirik kecil, tidak diampuni dosa syirik kecil itu, dan dia harus diadzab, dan adzab yang menimpa dia di akhirat adalah adzab yang sementara. Karena kesyirikan yang dia lakukan adalah syirik kecil, bukan syirik besar. Suatu saat dia akan dikeluarkan dari neraka.

Adapun orang yang melakukan syirik besar, lalu meninggal dunia dalam keadaan membawa syirik besar, maka tidak diampuni oleh Allāh ﷻ dan tempat kembalinya adalah neraka. Sebagaimana firman Allāh:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya barang siapa yang menyekutukan Allāh, maka sungguh Allāh telah mengharamkan atasnya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada penolong bagi orang-orang dzalim. (QS. Al-Māidah: 72)

Yaitu bagi orang-orang yang menyekutukan Allāh ﷻ dengan yang lain. Ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan syirik besar maka dia kekal di dalam neraka. Adapun orang yang melakukan syirik kecil, karena ini tidak membatalkan keislaman, maka dia diadzab di neraka sementara, kemudian akhirnya akan dimasukkan ke dalam surga.

Wa yaghfiru mā dūna dzālika liman yashā’ — dan Allāh masih mengampuni apa yang di bawah kesyirikan bagi siapa yang Allāh kehendaki. Seperti pelaku maksiat, atau pelaku bid‘ah, maka masih mendapatkan harapan untuk diampuni oleh Allāh, meskipun meninggal dunia dalam keadaan tidak bertaubat. Masih dia mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan ampunan dari Allāh ﷻ.

Liman yashā’ — bagi orang yang Allāh kehendaki. Artinya tidak semuanya orang yang melakukan dosa yang berada di bawah kesyirikan kemudian pasti diampuni oleh Allāh. Allāh berfirman, liman yashā’ — bagi orang yang Allāh kehendaki.

Itu adalah penjelasan dari ayat yang pertama, atau dalil yang pertama yang dibawakan oleh Syaikh di dalam bab ini. Jelas ayat yang mulia ini menunjukkan kepada kita tentang bahaya kesyirikan. Sangat berbahaya sekali, sehingga Allāh ﷻ tidak mengampuni dosa syirik tersebut.

Kalau tidak diampuni oleh Allāh, berarti adzab. Dan seseorang takut dengan adzab Allāh ﷻ. Karena adzab Allāh ﷻ adalah adzab yang sangat pedih.

وَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ

Dan pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengadzab seperti adzab Allāh. (QS. Al-Fajr: 25)

Yaitu adzab yang sangat pedih. Meskipun hanya sementara bagi orang yang melakukan syirik kecil, tetapi ini adalah adzab yang sangat pedih. Tidak boleh seseorang bermudah-mudahan dan menganggap enteng masalah ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer