Selasa

Halaqah 05 | Penjelasan Umum Bab 1 dan Pembahasan QS Adz Dzariyat 56

 

Halaqah 05 | Penjelasan Umum Bab 1 dan Pembahasan QS Adz Dzariyat 56

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-5 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Kita akan masuk pada bab yang pertama dari Kitāb At-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd. Beliu mengatakan

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Memulai kitabnya dengan Basmalah, dan beliau melakukan hal tersebut, yang pertama karena mengikuti Allāh ﷻ. Karena Allāh ﷻ di dalam kitab-Nya memulai Al-Qur’an dengan بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ.

Kemudian yang kedua adalah mengikuti Rasulullāh ﷺ, karena beliau ﷺ ketika mengirim surat dakwah kepada sebagian raja di zaman beliau, beliau memulai surat tersebut dengan بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ.

Dan kitab yang ditulis oleh seseorang, apalagi isinya adalah tentang Islam, tentang ilmu, maka kitab tersebut pada hakikatnya adalah surat dakwah yang disampaikan kepada orang lain. Sehingga di sini Syaikh memulai kitabnya dengan Basmalah.

Dan hikmah dimulainya kitab dengan Basmalah yang pertama adalah mencari barakah dengan menyebut nama Allāh ﷻ. Karena nama Allāh ﷻ adalah nama-nama yang berbarakah, sebagaimana dikabarkan oleh Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya. Sehingga diharapkan kitab yang ditulis menjadi kitab yang berbarakah, penuh dengan manfaat, penuh dengan kebaikan, mudah dipahami oleh manusia.

Kemudian yang kedua, di antara hikmahnya adalah meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ. Karena bāʾ di dalam بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ adalah bāʾul istiʿānahbāʾ yang maknanya adalah meminta pertolongan. Ketika seseorang mengatakan Bismillāh, artinya aku memohon pertolongan kepada Allāh ﷻ. Karena seseorang adalah hamba yang lemah, tidak akan bisa melakukan sesuatu kecuali apabila dibantu dan ditolong oleh Allāh ﷻ, termasuk di antaranya adalah menulis sebuah kitab.

Kemudian beliau mengatakan:

الْحَمْدُ لِلَّه وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Segala puji bagi Allāh dan shalawat Allāh untuk Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya serta salam untuk mereka.

Setelah Basmalah , beliau mengatakan Alḥamdulillāh. Dan Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an Al-Karīm, ayat yang kedua setelah بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ adalah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allāh, Rabb semesta alam. (QS. Al-Fātiḥah: 2)

Maka beliau juga menjadikan setelah Basmalah ini pujian kepada Allāh ﷻ.

Kemudian yang ketiga, membaca shalawat dan salam untuk Nabi kita Muḥammad ﷺ, keluarga beliau, dan juga para sahabat beliau.

Beliau mengatakan setelahnya:

كِتَابُ التَّوْحِيدِ

Kitab at-Tauhid. At-Tauhid berasal dari kata Wahhada – Yuwaḥḥidu – Tauhīdan, yang artinya adalah mengesakan atau menjadikan satu. Dan yang dimaksud dengan Tauhid di sini adalah Tauhidul Uluhiyah atau Tauhidul ʿIbādah, yaitu mengesakan Allāh di dalam ibadah.

Karena Tauhid sebagaimana yang kita tahu terbagi menjadi tiga:

  1. Tauhidur Rububiyah: seseorang mengesakan Allāh di dalam perbuatan-perbuatan Allāh, seperti mencipta, memberikan rezeki, dan mengatur alam semesta.

  2. Tauhidul Asmāʾ waṣ-Ṣifāt: seseorang menetapkan apa yang Allāh tetapkan dan juga Rasul-Nya, berupa nama dan juga sifat Allāh, tanpa menyerupakan nama dan sifat tersebut dengan nama dan sifat makhluk. Demikian pula menafikan apa yang Allāh nafikan dan juga Rasul-Nya, berupa sifat-sifat, dengan menetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat tersebut.

  3. Tauhidul ʿIbādah, mentauhidkan Allāh ﷻ di dalam masalah ibadah.

Dan tentunya sudah dijelaskan oleh para ulama tentang hubungan antara tiga Tauhid ini. Bahwasanya Tauhidur Rububiyah dan juga Tauhidul Asmāʾ waṣ-Ṣifāt, yang merupakan keyakinan yang ada di dalam hati seseorang—bahwasanya Allāh ﷻ Dialah yang mencipta, memberikan rezeki, dan mengatur alam semesta, serta keyakinan bahwasanya Allāh ﷻ Dialah yang memiliki nama-nama yang ḥusnā dan sifat-sifat yang paling tinggi, yang tidak ada yang semisal dengan-Nya—maka ini mengharuskan Tauhidul ʿIbādah. Keyakinan itu semua mengharuskan kita untuk mengesakan Allāh di dalam ibadah. Inilah yang dinamakan dengan Tauhidul ʿIbādah.

Dan Syaikh memaksudkan dengan ucapan beliau Kitabut Tauhid dan ucapan beliau Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd, adalah Tauhidul ʿIbādah, jenis yang ketiga.

Kemudian di dalam bab yang pertama, beliau raḥimahullāh, kalau kita melihat ayat, hadith, dan ucapan sahabat yang disebutkan dalam bab yang pertama ini, maka kita bisa simpulkan bahwasanya Syaikh ingin menjelaskan kepada kita tentang wajibnya seseorang untuk mengesakan Allāh di dalam ibadah.

Judul kitab ini adalah Kitabut Tauhid, dan yang dimaksud adalah Tauhidul ʿIbādah. Maka di dalam bab yang pertama, yang ingin beliau sampaikan pertama kali adalah wajibnya bagi seorang hamba untuk mengesakan Allāh di dalam ibadah. Sesuatu yang wajib—kalau sampai ditinggalkan, kemudian seseorang menyekutukan Allāh di dalam ibadah—maka dia telah terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan; bisa sampai kepada syirik yang besar atau kepada syirik yang kecil.

Ini makna wajib, dan inilah yang akan disebutkan oleh beliau: ayat dan juga hadits yang menunjukkan tentang wajibnya seseorang mengesakan Allāh di dalam ibadah dan haramnya seorang hamba menyekutukan Allāh dengan yang lain.

Dalil yang beliau sebutkan di sini, yang pertama:

وَقَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Firman Allāh ﷻ: “Dan Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)

Di dalam ayat ini Allāh ﷻ menyebutkan tentang hikmah penciptaan jin dan juga manusia. Mengapa Allāh menciptakan jin dan juga manusia? Hikmahnya disebutkan oleh Allāh, illā li-yaʿbudūn, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Maka ayat ini adalah ayat yang jelas menunjukkan tentang hikmah penciptaan jin dan manusia. Dan kalau beribadah adalah hikmah penciptaan jin dan manusia, berarti otomatis ketika manusia diciptakan, jin diciptakan, dia diperintahkan untuk beribadah kepada Allāh ﷻ. Karena memang Allāh tidak menciptakan mereka kecuali untuk beribadah kepada-Nya.

Ketika mereka sudah diciptakan, berarti mereka diperintahkan untuk beribadah kepada Allāh ﷻ. Diperintahkan, dan asal dari perintah adalah kewajiban. Oleh karena itu, berarti beribadah kepada Allāh hukumnya adalah wajib.

Di sini ada firman Allāh ﷻ:

إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)

Kalau disebutkan beribadah kepada Allāh, maka yang dimaksud adalah mengesakan Allāh dalam ibadah. Kalau seseorang menyekutukan Allāh didalam ibadahnya maka tidak dinamakan beribadah kepada Allāh, dinamakan menyekutukan Allāh didalam ibadah.

Jadi, beribadah kepada Allāh artinya adalah mengesakan Allāh dalam ibadah. Adapun orang yang masih beribadah kepada Allāh dan juga kepada selain Allāh, maka ini dinamakan dengan syirik, yaitu menyekutukan Allāh di dalam ibadah.

Sehingga di sini kita memahami firman Allāh: إِلَّا لِيَعْبُدُونِkecuali beribadah kepada-Ku, maksudnya adalah kecuali supaya mereka mengesakan Aku dalam ibadah.

Dan inilah yang ditafsirkan oleh ʿAbdullāh bin ʿAbbās raḍiyallāhu ʿanhumā. Bahwasanya, makna ʿibādatullāh adalah mentauhidkan Allāh di dalam ibadah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer