Selasa

Halaqah 03 | Biografi Muallif Bag 3

 

Halaqah 03 | Biografi Muallif Bag 3

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-3 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Syaikh raḥimahullāh memulai dakwahnya dari negeri Ḥuraymalāʾ karena di sana ada bapak beliau. Kemudian, ketika sudah memulai dakwah di sana dan melihat bahwasanya negeri tersebut tidak kondusif untuk dakwah beliau, akhirnya beliau meninggalkan Ḥuraymalāʾ ini dan menuju ke negeri al-ʿUyaynah serta menghubungi gubernur atau raja yang ada di sana, yaitu ʿUthmān ibn Muʿammar.

Di awal dakwahnya, maka ʿUthmān ibn Muʿammar ini membantu Syaikh di dalam dakwahnya sehingga berdatanganlah para penuntut ilmu, dan mulailah di negeri ini beliau, dan juga tentunya ʿUthmān ibn Muʿammar, melaksanakan hukum-hukum syarʿi. Sehingga sempat di sana dihancurkan kubah-kubah yang dijadikan tempat kesyirikan, bahkan sempat dirajam orang yang berzina. Ini yang terjadi di al-ʿUyaynah.

Kemudian setelah itu, ada yang mengancam ʿUthmān ibn Muʿammar. Dia diancam oleh sebagian orang, “Kalau masih membantu Syaikh Muḥammad ibn ʿAbd al-Wahhāb di dalam dakwahnya, maka akan demikian dan demikian.” Akhirnya ʿUthmān ibn Muʿammar ini merasa takut dengan ancaman tersebut, sehingga Syaikh pun tahu diri, dan akhirnya beliau pun meninggalkan al-ʿUyaynah mencari tempat yang lain. Subhanallah.

Kemudian beliau menuju ke sebuah negeri bernama Dirʿiyyah. Di sana beliau menghubungi amīrnya, gubernurnya, atau rajanya yang bernama Muḥammad ibn Suʿūd. Beliau menawarkan dakwahnya: dakwah tauḥīd, dakwah kepada Sunnah, dakwah kepada al-Qurʾān dan ḥadīṡ dengan pemahaman para ṣaḥābah.

Akhirnya, alḥamdulillāh, Muḥammad ibn Suʿūd ini menerima dakwah Syaikh dan membantu beliau sepenuhnya serta siap dengan seluruh risiko yang ada. Maka Syaikh pun menetap di Dirʿiyyah tersebut, dan mulailah beliau mengajarkan ilmu agama. Dan para ṭullābul-ʿilm, para penuntut ilmu, mulai berdatangan dari berbagai negeri sehingga jadilah negeri tersebut, yaitu negeri Dirʿiyyah, negeri yang islami dipimpin oleh Muḥammad ibn Suʿūd dan ulama-nya, di antaranya adalah Syaikh Muḥammad ibn ʿAbd al-Wahhāb.

Ternyata dakwah tersebut semakin berkembang sehingga negeri-negeri yang ada di sekitarnya mulai mengikuti dan bergabung dengan dakwah Syaikh Muḥammad ibn ʿAbd al-Wahhāb. Kemudian terus berkembang dakwah tauḥīd dan ajakan untuk meninggalkan kesyirikan, bidʿah, dan lain-lain sampai akhirnya bi-idhnillāhi ʿazza wa jalla, dengan taufīq dari Allāh ﷻ, berkembanglah dakwah tersebut dan bersatulah negeri-negeri yang ada di Nejd di bawah bendera tauḥīd.

Kemudian berkembang lagi ke Ḥijāz, mereka bergabung, ʿAsīr, kemudian juga sebelah utara Jazīrah Arab. Dan semuanya itu tentunya adalah taufīq dari Allāh dan pertolongan dari Allāh ﷻ.

Dan dakwah beliau, alḥamdulillāh, ternyata bukan hanya terbatas di Jazīrah Arab saja. Kita tahu bahwasanya kaum Muslimīn sepanjang tahun dan setiap tahun berdatangan ke Makkah al-Mukarramah, ke Al-Madīnah An-Nabawiyyah untuk melaksanakan ibadah ʿumrah maupun ḥajj. Di sanalah mereka bertemu dengan para ulama yang mendakwahkan tauḥīd, mengajak kembali kepada al-Qurʾān dan Sunnah.

Sehingga tersebar juga dakwah Syaikh melalui jalan ini. Mereka yang datang ke sana mengenal Sunnah, mengenal tauḥīd, kemudian kembali ke negerinya dalam keadaan membawa ilmu dan mendakwahkan ilmu tersebut di tengah-tengah kaum Muslimīn yang ada di negerinya.

Sehingga dakwah Syaikh bukan hanya ada pengaruhnya di negeri Arab saja atau di Jazīrah Arab saja, bahkan sekarang sudah mendunia. Termasuk di antaranya ke Yaman, ke Sudan, ke Afrika, ke Syām, Yordania, Palestina dan sekitarnya. Demikian pula sampai ke India, Pakistan, bahkan ke negeri kita dan sekitarnya. Banyak di antara mereka yang mengenal Sunnah, mengenal tauḥīd dengan sebab dakwah yang berbarakah ini.

Demikian pula setelah berkembangnya dakwah ini, mulailah muncul semangat baru di tengah-tengah kaum Muslimīn. Mulai tersebar kajian-kajian ilmiah di masjid-masjid di berbagai negara kaum Muslimīn, dan banyak para duʿāt, para asātidzah yang bersemangat untuk menulis, bersemangat untuk berdakwah. Dan ini semua tentunya adalah di antara buah dan juga hasil dari sebuah dakwah yang berbarakah, yang tujuannya adalah untuk menegakkan kalimat Allāh ﷻ.  Allāh ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian menolong (agama) Allāh, maka Allāh akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian. (QS. Muḥammad: 7)

Yaitu menetapkan kalian di atas agama Allāh ﷻ.

Beliau raḥimahullāh telah menghabiskan umurnya untuk dakwah ini dan untuk agama ini, serta meninggalkan untuk kaum Muslimīn karangan-karangan yang banyak. Di antaranya adalah Kitabut Tauhid yang insyaAllāh akan kita pelajari, Kasyfus SyubhatUshulul ImanFadhlul-Islam, kemudian juga Mukhtashar Sirah an-Nabawiyah, kemudian di sana ada Mukhtashar Jadim Ma’at, di sana ada Qawaidul Arba’, ada Ushulus Sittah, ada al-Ushul ats-Tsalatsah dan kitab-kitab yang lain yang Alhamdulillāh, kitab-kitab tersebut telah tersebar dan dipelajari terus oleh para ulama dan juga para thullabul ‘ilm.

Kemudian beliau raḥimahullāh meninggal dunia pada tahun 1206 Hijriyah, sehingga umur beliau kurang lebih 91 tahun, setelah meninggalkan banyak warisan berupa ilmu agama.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer