Selasa

Halaqah 09 | Kandungan-Kandungan Dalam Bab 1

 

Halaqah 09 | Kandungan-Kandungan Dalam Bab 1

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-9 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Setelah beliau menyebutkan ayat dan juga Hadits tentang kewajiban mengesakan Allāh ﷻ di dalam ibadah, maka manhaj beliau di dalam kitab ini menyebutkan tentang permasalahan-permasalahan yang terkandung di dalam ayat dan juga Hadits tersebut. Jadi dia seperti faedah, apa yang bisa kita ambil faedahnya dari ayat dan juga Hadits tersebut.

Ada yang berkaitan dengan memang masalah Tauhid, tapi beliau juga memberikan faedah-faedah yang lain, permasalahan-permasalahan yang lain yang tidak ada hubungannya dengan masalah Tauhid, dan ini adalah termasuk kedermawanan beliau di dalam masalah ilmu. Beliau mengatakan,

فِيهِ مَسَائِل

Di dalamnya ada beberapa permasalahan

الأُولَى: الحِكْمَةُ فِي خَلْقِ الجِنِّ وَالإِنسِ

Yang pertama yang bisa kita ambil faedah, hikmah dari penciptaan jin dan manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allāh ﷻ. Dan makna beribadah kepada Allāh ﷻ adalah mengesakan Allāh ﷻ di dalam ibadah.

الثَّانِيَةُ: أَنَّ العِبَادَةَ هِيَ التَّوْحِيدُ؛ لِأَنَّ الخُصُومَةَ فِيهِ

Yang kedua, bahwasannya ibadah itu adalah Tauhid. Beribadah kepada Allāh ﷻ artinya adalah mentauhidkan Allāh ﷻ di dalam ibadah, karena perseteruan, pertengkaran adalah di dalamnya, maksudnya adalah pertengkaran antara para nabi dan juga umatnya. Perseteruan antara Nabi Muḥammad ﷺ dengan orang-orang Quraisy adalah tentang masalah Tauhid ini, karena mereka tidak mengesakan Allāh ﷻ dalam ibadah, tidak melaksanakan hikmah dan tujuan kenapa mereka diciptakan di sini.

Akhirnya Allāh ﷻ mengutus para rasul kepada umat-umat tersebut, mengajak mereka untuk kembali kepada fitrahnya, yaitu mengesakan Allāh ﷻ di dalam ibadah. Ada di antara mereka yang mau beriman, dan ada di antara mereka yang tetap mengingkari. Jadi, pengingkaran mereka dan perseteruan yang terjadi antara para nabi dan juga umatnya ini adalah pada masalah Tauhidul Ibadah.

Adapun dalam masalah Tauhid ar-Rubūbiyyah, Allāh ﷻ yang mencipta, Allāh ﷻ yang memberikan rezeki, Allāh ﷻ yang mengatur alam semesta, maka tidak ada perseteruan antara para nabi dan juga para rasul tersebut dengan umatnya. Semua di atas fitrah yang meyakini bahwasannya Allāh ﷻ yang mencipta, memberikan rezeki, dan mengatur alam semesta.

الثَّالِثَةُ: أَنَّ مَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِ لَمْ يَعْبُدِ اللهَ، فَفِيهِ مَعْنَى قَوْلِهِ: {وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ}

Yang ketiga, orang yang tidak bertauhid maka berarti dia tidak menyembah kepada Allāh ﷻ, maka di dalamnya ada makna firman Allāh “Dan kalian tidak menyembah apa yang aku sembah”.

Yang dimaksud dengan kalian di sini adalah orang-orang musyrikin Quraisy. Kita tahu bahwasannya mereka menyembah Allāh ﷻ juga, tapi ketika mereka menyembah Allāh ﷻ dan juga menyembah selain Allāh ﷻ, Lātā, ʿUzzā, Hubal, Manāt, dan juga yang lain, maka mereka tidak dinamakan beribadah kepada Allāh ﷻ.

وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

Kalian tidak menyembah apa yang aku sembah, karena kalian menyekutukan Allāh ﷻ, sedangkan aku hanya menyembah Allāh ﷻ saja. Dan orang yang menyekutukan Allāh ﷻ tidak dinamakan beribadah kepada Allāh ﷻ.

الرَّابِعَةُ: الحِكْمَةُ فِي إِرْسَالِ الرُّسُلِ

Yang keempat adalah hikmah dari pengutusan para rasul. Apa hikmahnya? Menyuruh manusia untuk mengesakan Allāh ﷻ di dalam ibadah. Ini adalah hikmah.

الخَامِسَةُ: أَنَّ الرِّسَالَةَ عَمَّتْ كُلَّ أُمَّةٍ

Yang kelima, bahwasannya ajaran agama ini, ini umum untuk seluruh umat. Artinya Allāh ﷻ tidak hanya mengutus rasul kepada sebagian umat, tapi sebagaimana dalam ayat fii kulli ummah, kepada setiap umat diutus kepada mereka para rasul.

السَّادِسَةُ: أَنَّ دِينَ الأَنْبِيَاءِ وَاحِدٌ

Yang kelima, bahwasannya agama para nabi adalah satu, yaitu agama Islam.

Apa agama Islam? Agama yang menyuruh kepada penyembahan kepada Allāh ﷻ semata. Dari mana faedah ini diambil? Dari firman Allāh ﷻ

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allāh dan jauhilah thāghūt.” (QS. An-Naḥl: 36)

السَّابِعَةُ: المَسْأَلَةُ الكَبِيرَةُ: أَنَّ عِبَادَةَ اللهِ لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِالكُفْرِ بِالطَّاغُوتِ

Kemudian yang ketujuh, permasalahan yang besar, bahwasannya Tauhid, beribadah kepada Allāh ﷻ, tidak mungkin terwujud kecuali dengan kufur terhadap thāghūt.

Harus mengingkari segala yang disembah selain Allāh ﷻ. Kalau kita tidak mengingkari, maka belum bertauhid. Makanya di sana ada Lā ilāha illallāh, ada penafian dan ada penetapan. Menetapkan saja tidak cukup, harus menafikan segala sesuatu yang disembah selain Allāh ﷻ.

فَفِيهِ مَعْنَى قَوْلِهِ: {فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى}

Di dalamnya ada makna firman Allāh ﷻ, maka barang siapa yang mengingkari thāghūt (harus ada pengingkaran kepada thāghūt) dan beriman kepada Allāh ﷻ (penetapan) maka sungguh dia telah berpegang dengan tali yang kuat.

Kapan dinamakan berpegang dengan tali yang kuat? Kalau dia mengingkari thāghūt dan dia menetapkan beriman kepada Allāh ﷻ.

الثَّامِنَةُ: أَنَّ الطَّاغُوتَ عَامٌّ فِي كُلِّ مَا عُبِدَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

Yang kedelapan, bahwasannya thāghūt ini adalah umum. Umum segala sesuatu yang disembah selain Allāh ﷻ, maka dinamakan dengan thāghūt. Dan kita dilarang untuk mendekati thāghūt, serta diperintahkan untuk menjauhi thāghūt tersebut. Berarti ada perintah untuk mengesakan Allāh ﷻ di dalam ibadah.

التَّاسِعَةُ: عِظَمُ شَأْنِ الثَّلَاثِ الْآيَاتِ الْمُحْكَمَاتِ فِي سُورَةِ الْأَنْعَامِ عِنْدَ السَّلَفِ

Yang kesembilan, keagungan tiga ayat yang ada di dalam QS. Al-Anʿām, yaitu ayat 151 sampai ayat 153, dimata para salaf dahulu. Buktinya apa? Buktinya ʿAbdullāh bin Masʿūd menukil tiga ayat ini untuk menunjukkan tentang seandainya Rasūlullāh ﷺ berwasiat, niscaya beliau akan berwasiat dengan ayat-ayat ini. Maksudnya adalah berwasiat dengan Tauhid.

وَفِيهَا عَشْرُ مَسَائِلَ، أَوَّلُهَا النَّهْيُ عَنِ الشِّرْكِ

Di dalam tiga ayat ini ada sepuluh permasalahan, di antara sepuluh permasalahan tadi, yang pertama adalah larangan untuk melakukan kesyirikan.

الْعَاشِرَةُ: الْآيَاتُ الْمُحْكَمَاتُ فِي سُورَةِ الْإِسْرَاءِ، وَفِيهَا ثَمَانِي عَشْرَةَ مَسْأَلَةً

Yang kesepuluh, ayat-ayat yang muhkamat (yaitu ayat-ayat yang tidak memerlukan ayat-ayat lain untuk menjelaskan) di dalam surah Al-Isrāʾ dan di dalamnya ada delapan belas permasalahan

بَدَأَهَا اللَّهُ بِقَوْلِهِ

Dimulai oleh Allāh ﷻ dari firman-Nya,

لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا

وَخَتَمَهَا بِقَوْلِهِ

Ditutup oleh Allāh ﷻ dengan firman-Nya

وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتُلْقَىٰ فِي جَهَنَّمَ مَلُومًا مَدْحُورًا

Yang pertama isinya adalah larangan untuk menyekutukan Allāh ﷻ dengan yang lain, demikian pula yang terakhir, yang kedelapan belas, larangan untuk menyekutukan Allāh ﷻ dengan yang lain.

وَنَبَّهْنَا اللهُ عَلَى عِظَمِ شَأْنِ هَذِهِ الْمَسَائِلِ بِقَوْلِهِ: {ذَلِكَ مِمَّا أَوْحَى إِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِ} [الإسراء: 39]

Dan kemudian Allāh ﷻ mengingatkan kita tentang keagungan delapan belas permasalahan ini dengan firman-Nya: Itulah yang di antara apa yang diwahyukan oleh Allāh ﷻ kepada dirimu di antara hikmah.

Jadi, delapan belas permasalahan tadi di antara yang diwahyukan oleh Allāh ﷻ kepada nabi-Nya berupa hikmah, menunjukkan kepada kita tentang keagungan masalah Tauhid ini. Delapan belas perkara, diawali dengan Tauhid dan diakhiri dengan Tauhid.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer