Halaqah 11 | Penjelasan Umum Bab 02 dan Pembahasan QS Al An’am 86
Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-11 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.
Masuk kita pada bab yang kedua di dalam kitab ini yang diberi judul oleh Syaikh dengan
بَابُ فَضْلِ التَّوْحِيدِ، وَمَا يُكَفِّرُ مِنَ الذُّنُوبِ
Bab tentang keutamaan Tauhid dan bahwasanya Tauhid ini menghapuskan dosa-dosa.
Setelah beliau raḥimahullāh membawakan untuk kita pada bab yang pertama tentang kewajiban Tauhid, maka beliau menjelaskan di sini bahwasanya meskipun Tauhid ini adalah hukumnya wajib dan seorang hamba diharuskan dan diwajibkan untuk bertauhid, mengesakan Allāh, bukan berarti dia tidak diberikan pahala atau tidak memiliki keutamaan. Bahkan dia adalah sesuatu yang wajib dan Allāh ﷻ memberikan pahala yang besar, keutamaan yang besar bagi orang yang memiliki Tauhid ini.
Inilah yang dimaksud oleh beliau raḥimahullāh mendatangkan bab ini, untuk menjelaskan kepada kita bahwasanya Tauhid yang hukumnya adalah wajib dan di waktu yang sama dia memiliki keutamaan yang besar. Maksudnya, hikmahnya adalah supaya kita bersemangat untuk melakukan kewajiban tersebut. Ternyata dia memiliki keutamaan yang besar dan keistimewaan yang besar, sehingga kita bersemangat untuk melakukan kewajiban tadi. Selain bersemangat, juga ikhlas di dalam melaksanakan kewajiban tadi karena kita mengingat pahala dan juga ganjaran yang Allāh sediakan bagi orang-orang yang bertauhid.
Sehingga beliau mengatakan: Bābu faḍli at-Tawḥīd wa mā yukaffiru mina adz-dzunūb, bab tentang keutamaan Tauhid dan bahwasanya Tauhid ini adalah menghapuskan dosa-dosa. Ucapan beliau wa mā yukaffiru mina adz-dzunūb, takdirnya asalnya adalah wa takfīrihi mina adz-dzunūb. Bābu faḍli at-Tawḥīd wa takfīrihi mina adz-dzunūb, keutamaan Tauhid dan bahwasanya dia menghapuskan dosa.
Dan menghapuskan dosa ini adalah bagian dari keutamaan Tauhid. Tapi disebutkan oleh Syaikh di sini dengan mengatakan wa mā yukaffiru mina adz-dzunūb untuk menunjukkan tentang kedudukan dari takfīru adz-dzunūb, yaitu kedudukan dari dihapuskannya dosa seseorang, dan bahwasanya itu adalah keutamaan yang besar, keistimewaan yang besar, yang diinginkan oleh setiap orang yang merasa dirinya memiliki dosa yang banyak.
Ini adalah keutamaan yang besar, dan oleh karena itu Syaikh raḥimahullāh menyendirikan dan mengatakan: Bābu faḍli at-Tawḥīd wa mā yukaffiru mina adz-dzunūb. Kemudian beliau mendatangkan beberapa dalil yang menunjukkan tentang keutamaan Tauhid ini. Yang pertama:
وَقَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Allāh mengatakan di dalam QS. Al-An‘ām: 82:
Orang-orang yang beriman dan dia tidak mencampuri keimanannya dengan kezaliman, mereka lah orang-orang yang mendapatkan keamanan, dan mereka lah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.
الَّذِينَ آمَنُوا: orang yang beriman. Dan rukun iman yang paling besar adalah beriman kepada Allāh, dan di antara makna beriman kepada Allāh adalah mentauhidkan Allāh, beriman dengan ulūhiyyah Allāh. Orang-orang yang beriman berarti orang-orang yang mentauhidkan Allāh di dalam rubūbiyyah-Nya, di dalam ulūhiyyah-Nya, di dalam nama dan juga sifat-Nya. Dan dia beriman dengan rukun iman yang lain, dan ini adalah arkanul īmān, uṣhūlul īmān, pondasi-pondasi keimanan.
وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ: selain dia beriman, termasuk di antaranya adalah mentauhidkan Allāh, dan dia tidak mencampuri keimanan tersebut, tidak mengotori keimanan tersebut dengan kezaliman. Yang dimaksud dengan kezaliman di sini adalah syirik kepada Allāh.
Di dalam sebuah hadits, datang para sahabat Nabi ﷺ kepada Rasulullāh ﷺ ketika turun ayat ini atau ketika mereka membaca ayat ini, kemudian mereka mengatakan:
“Yā Rasūlullāh, ayyuna lam yazhlim nafsahu?”
Wahai Rasulullāh, siapa di antara kami yang tidak menzalimi dirinya?
Mereka memahami bahwasanya orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanannya dengan kezaliman, yang mereka pahami adalah kezaliman seseorang kepada dirinya sendiri dengan maksiat atau kezaliman yang dilakukan seseorang kepada orang lain. Ini yang mereka pahami dari ayat ini. Sehingga mereka datang kepada Nabi ﷺ dan mengatakan:
“Yā Rasūlullāh, siapa di antara kami yang tidak menzalimi dirinya sendiri (yaitu melakukan dosa)?”
Kemudian Nabi ﷺ mengatakan:
“Apakah kalian tidak mendengar apa yang diucapkan oleh al-‘Abduṣ-Ṣāliḥ, seorang hamba yang shalih, maksudnya adalah Luqmān al-Ḥakīm, ketika dia mengatakan kepada puteranya:
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allāh. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang besar.”
Beliau memaksudkan dengan penjelasan ini, bahwasanya yang dimaksud dengan kezaliman yang disebutkan dalam QS. Al-An‘ām: 82 tadi adalah kezaliman ini, yaitu kesyirikan kepada Allāh. Orang yang beriman dan dia tidak mencampuri keimanannya dengan kesyirikan, artinya dia lurus tauhidnya, tidak melakukan kesyirikan kepada Allāh, maka apa keutamaannya?
أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ
Mereka lah orang-orang yang mendapatkan keamanan, dan mereka lah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.
Mendapatkan keamanan, ada yang mengatakan keamanan di akhirat, di waktu di mana manusia dalam keadaan takut akan menghadapi hisab Allāh ﷻ, mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan di dunia. Dan di sana ada konsekuensinya, ada Neraka bagi orang yang menyia-nyiakan amanah, menyia-nyiakan tanggungjawab, yang mereka melakukan kemaksiatan kepada Allāh di dunia. Maka manusia saat itu dalam keadaan takut, belum lagi melihat pemandangan-pemandangan yang sangat mengerikan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Tapi Allāh ﷻ berikan bagi orang-orang yang tidak menyekutukan Allāh di dunia, akan diberikan kepada mereka keamanan, dijadikan mereka tenang, dijadikan mereka tidak takut, tidak gundah, tidak resah dengan apa yang mereka lihat. Ūlāʾika lahumul amnu, mereka lah orang-orang yang mendapatkan keamanan. Tentunya ini adalah keutamaan yang besar yang kita harus berlomba untuk mendapatkannya. Jangan sampai kita datang di hari kiamat dalam keadaan kita takut, dalam keadaan kita resah, karena ketakutan di hari itu tidak sama dengan ketakutan di hari kita di dunia ini. Ini adalah keutamaan bagi orang yang bertauhid dan tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apa pun.
Wahum muhtadūn, dan mereka mendapatkan petunjuk. Ada yang mengatakan maksudnya adalah di dunia, orang yang mentauhidkan Allāh ﷻ dan hatinya dipenuhi dengan Tauhid, didasari dengan Tauhid yang benar, dengan pemahaman yang benar, maka dia akan mendapatkan petunjuk. Petunjuk kepada ilmu yang shahih dan diberikan petunjuk untuk mengamalkan ilmu tersebut. Inilah petunjuk, seseorang akan mendapatkan petunjuk apabila dia mentauhidkan Allāh ﷻ, petunjuk kepada jalan yang lurus yang terkumpul di dalamnya ilmu dan juga amal.
Kapan ini bisa didapatkan oleh seseorang? Ketika dia mentauhidkan Allāh ﷻ. Dan tentunya petunjuk adalah sesuatu yang sangat diharapkan dan dinanti oleh seseorang. Seseorang tidak ingin hidupnya dalam keadaan gelap, dalam keadaan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hidup yang demikian adalah kehidupan yang tidak menenteramkan, tidak mengenakkan, seseorang yang hidup dalam keadaan dia bingung, dalam keadaan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maka ini adalah kehidupan yang sangat tidak nyaman.
Siapakah orang-orang yang keluar dari kegelapan tersebut dan kebingungan tersebut? Mereka adalah orang-orang yang bertauhid. Orang yang bertauhid tahu bahwasanya dia diciptakan oleh Allāh ﷻ di dunia ini untuk beribadah kepada Allāh, dan tahu bahwasanya Allāh tidaklah menciptakan apa yang ada di sekitarnya kecuali untuk mendukung ibadah dia. Ketika dapat musibah, ketika dapat kenikmatan, dia tahu apa yang harus dilakukan. Jangan sampai musibah yang menimpa dia ini memalingkan dia dari Tauhid, memalingkan dia dari hikmah dia diciptakan oleh Allāh di dunia, yaitu untuk beribadah. Demikian pula ketika dia mendapatkan kenikmatan, tidak menjadikan dia lalai dari beribadah kepada Allāh.
Maka orang-orang yang bertauhid, mereka lah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Sehingga tentunya ini adalah keutamaan yang besar bagi orang yang bertauhid kepada Allāh ﷻ. Di dunia maupun di akhirat mereka mendapatkan kebahagiaan, di dunia mereka mendapatkan petunjuk dari Allāh ﷻ, dan di akhirat mereka akan mendapatkan keamanan.
Dan ada yang mengatakan bahwasanya keamanan dan petunjuk di sini adalah di dunia maupun di akhirat. Keamanan di dunia, maksudnya adalah orang yang bertauhid kepada Allāh ﷻ hidupnya akan tenteram, karena dia bertawakal hanya kepada Allāh dan dia yakin bahwasanya tidak memberikan mudharat dan tidak memberikan manfaat kecuali Allāh. Dia tidak takut kepada selain Allāh. Adapun orang yang tidak mengenal Allāh, dan dia menyekutukan Allāh dengan yang lain, dan tidak bertawakal kepada Allāh, maka hatinya senantiasa dipenuhi oleh ketakutan, takut dengan rezeki di masa yang akan datang, takut dengan manusia, takut dengan ini dan itu, karena dia tidak mengenal Allāh dan kosong hatinya dari Tauhid.
Maka orang yang bertauhid, mereka adalah orang yang mendapatkan keamanan di dunia, diberikan oleh Allāh, diturunkan oleh Allāh di dalam hatinya rasa aman. Demikian pula hidayah, di sini ada yang mengatakan hidayah di dunia maupun di akhirat. Hidayah di akhirat, maksudnya adalah diberikan hidayah yang ditunjukkan kepada Surga-Nya Allāh ﷻ.
Kemudian perlu diketahui bahwasanya rasa aman dan petunjuk yang Allāh berikan kepada orang-orang yang bertauhid ini bertingkat-tingkat satu dengan yang lain, sesuai dengan Tauhid yang ada dalam dirinya. Kalau Tauhidnya semakin sempurna, maka rasa aman dan juga petunjuk yang Allāh berikan kepadanya akan semakin sempurna. Tapi kalau Tauhid yang ada dalam diri seseorang berkurang, maka rasa amannya juga berkurang, petunjuknya juga semakin berkurang. Allāh tidak akan menyamakan antara orang yang Tauhidnya sempurna dengan orang yang Tauhidnya kurang. Allāh bedakan dari sisi pahala dan juga ganjaran.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Tidak ada komentar:
Posting Komentar