Selasa

Halaqah 12 | Pembahasan Hadits Ubadah ibn Shamit

 

Halaqah 12 | Pembahasan Hadits Ubadah ibn Shamit

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-12 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Beliau mendatangkan hadits Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالجَنَّةَ حَقٌّ، وَالنَّارَ حَقٌّ؛ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ العَمَلِ» أَخْرَجَاهُ

Beliau mengatakan dari ‘Ubadah ibn Shamit radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullāh ﷺ bersabda yang artinya: Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh, Dia saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwasannya Muḥammad adalah hamba Allāh dan juga Rasul-Nya, dan bahwasannya ʿĪsā adalah hamba Allāh dan juga Rasul-Nya, dan kalimat Allāh yang Allāh lemparkan kepada Maryam dan Ruh dari Allāh, dan bahwasannya Surga adalah benar dan Neraka adalah benar, maka Allāh akan memasukkan dia ke dalam Surga atas amalan yang dia lakukan.

Hadits ini dikeluarkan oleh Bukhārī dan juga Muslim.

Di dalam hadits ‘Ubadah ibn Shamit ini, Nabi ﷺ menyebutkan tentang keutamaan Tauhid dan beberapa hal yang merupakan keyakinan yang harus diyakini, bahwasannya ini semua akan menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam Surga.

Barang siapa yang bersyahadat, bersaksi, dan orang yang bersaksi ini harus berdasarkan ilmu. Bersaksi berarti harus mengilmui, harus memahami. Tidak dinamakan saksi kecuali orang yang tahu keadaan. Adapun berucap, bersaksi sementara dia tidak tahu-menahu tentang apa yang dia saksikan, apa yang dia ucapkan, maka ini adalah persaksian yang dusta.

Barang siapa yang bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh, bahwasannya di dunia ini tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh. Sesembahan banyak, tapi yang berhak disembah dan Dialah yang mencipta, yang memberikan rezeki, dan berhak untuk disembah hanyalah satu, yaitu Allāh, menyaksikan dan mengilmui itu. Ditambah juga dengan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sekedar ucapan dan keyakinan tapi dia amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Barang siapa yang bersaksi dengan kalimat Tauhid ini, waḥdahu lā sharīka lah, Dia saja, yaitu Allāh saja yang disembah, lā sharīka lahu, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada selain Allāh yang berhak untuk disembah. Bersaksi, mengilmui, dan dia ikhlas dalam mengucapkan dan mengamalkan isinya.

Wa anna Muḥammadan ʿabduhū wa rasūluhū, dan bahwasannya Muḥammad adalah hamba Allāh dan juga Rasul-Nya. Muḥammad ibn ʿAbdillāh al-Hāshim, beliau adalah seorang hamba Allāh, artinya hamba Allāh menyembah Allāh ﷻ, menghambakan dirinya kepada Allāh, menghambakan dirinya kepada Dzat yang telah menciptakan dia, menunjukkan bahwasannya beliau adalah hamba dan bukan maʿbūd (bukan yang disembah). Beliaulah yang menyembah dan bukan yang disembah, menunjukkan kepada kita keyakinan kita bahwasannya Nabi ﷺ bukan Tuhan dan bukan orang yang memiliki sifat-sifat ketuhanan.

Tidak boleh meyakini bahwasannya beliau mengetahui yang ghaib atau beliau memberikan manfaat dan juga mudharat, ghuluw terhadap beliau ﷺ, dengan mengatakan seperti yang diucapkan oleh sebagian, “Aku tidak punya sesuatu yang aku berlindung kepadanya kecuali dirimu.” Ini ghuluw yang demikian, ini sudah mensifati beliau dengan sifat ketuhanan. Kita harus meyakini bahwasannya beliau adalah hamba Allāh, bukan Tuhan atau bukan orang yang memiliki sifat-sifat ketuhanan.

Wa rasūluhū, dan Beliau adalah seorang Rasul yang membawa misi dari Allāh ﷻ, membawa ajaran dari Allāh yang harus kita benarkan, kita ikuti ajaran tersebut, yakin bahwasannya beliau adalah Rasul, dan kita ikuti beliau karena beliau adalah utusan Allāh kepada kita.

Wa anna ʿĪsā ʿabdullāhi wa rasūluhū, dan bahwasanya ʿĪsā adalah hamba Allāh dan juga Rasul-Nya. Hamba Allāh berarti beliau bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan seperti yang diyakini oleh orang-orang Nashara, wa rasūluhū, dan beliau adalah seorang Rasul, harus dimuliakan dan diyakini tentang kemuliaannya. Seorang Rasul tapi beliau adalah Rasul yang diutus khusus untuk Bani Isrāʾīl. Kita yakini bahwasannya beliau adalah Rasul yang diutus untuk Bani Isrāʾīl. Adapun mengikuti ajaran, maka yang kita ikuti adalah ajaran Rasul yang diutus kepada kita, yaitu Nabi Muḥammad ﷺ.

Wa kalimatuhū alqāhā ilā Maryam, dan bahwasanya Isa Ibn Maryam adalah kalimat Allāh yang Allāh lemparkan kepada Maryam, yaitu Allāh arahkan kepada Maryam. Yang dimaksud dengan kalimat Allāh bahwasanya beliau ‘alaihissalam adalah diciptakan dengan kalimat Allāh. Apa kalimat Allāh yang dimaksud? Kalimat Allāh yang dimaksud adalah kun, yaitu jadilah, dengan kalimat ini maka jadilah apa yang Allāh inginkan.

Dalam sebuah ayat Allāh mengatakan:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

Sesungguhnya permisalan Isa di sisi Allāh adalah seperti permisalan Adam. Allāh menciptakannya dari tanah, kemudian Allāh berfirman kepadanya: “Jadilah!”, maka jadilah dia. (QS. Āli ʿImrān: 59)

Jadi yang dimaksud dengan wa kalimatuhu, dan kalimat Allāh, maksudnya adalah Isa Ibn Maryam tercipta dengan kalimat Allāh Kun, meskipun beliau tidak memiliki bapak. Dan asalnya seseorang lahir dari bapak dan juga ibu, tapi qudratullāh, Allāh ﷻ mampu untuk jadikan di sana seorang wanita yang dia mengandung tanpa adanya seorang suami, Allāh ﷻ tinggal mengatakan kun maka jadilah apa yang Allāh inginkan.

Kemudian, wa rūḥun minhū, dan dia adalah ruh dari Allāh, Allāh tiupkan ruh pada diri Isa ibn Maryam sehingga dia menjadi seorang manusia yang hidup sempurna seperti yang lain. Dia adalah rūḥun memiliki ruh yang berasal dari Allāh ﷻ, Allāh ﷻ yang menciptakan ruh tadi, dan Allāh ﷻ yang meniupkan ruh tadi padanya. Ini menunjukkan bahwasanya beliau ʿAlaihissalām adalah makhluk yang diciptakan oleh Allāh ﷻ dan ditiupkan kepada diri beliau ruh sebagaimana manusia yang lain.

Dan tentunya ini adalah bantahan terhadap orang-orang yang mengatakan bahwasanya Isa adalah Tuhan, atau dia adalah satu di antara tiga Tuhan, atau dia adalah anak Allāh. Maka ini adalah keyakinan yang bathil.

Wal-jannata ḥaqqun, wan-nāra ḥaqqun, dan Surga adalah benar, dan bahwasanya Neraka adalah benar, benar adanya. Dan beramal shalih untuk mendapatkan Surga, dan mengatakan bahwasanya Neraka adalah benar, dan dia meninggalkan kemaksiatan karena takut masuk ke dalam Neraka. Orang yang demikian keadaannya, adkhalahullāhu al-jannah ʿalā mā kāna min al-ʿamal, Allāh akan memasukkan dia ke dalam Surga, apapun amalan yang ada pada dirinya, baik amalan tersebut adalah amalan yang baik ataupun amalan yang tidak baik, yaitu amal yang merupakan kemaksiatan.

Hadits ini memberikan dorongan kepada seseorang untuk mentauhidkan Allāh dan meyakini apa yang disebutkan di sini, bahwasanya Isa adalah hamba Allāh dan juga Rasul-Nya, dan bahwasanya Surga adalah benar, dan bahwasanya Neraka adalah benar. Keutamaannya, Allāh akan memasukkan dia ke dalam Surga, menunjukkan bahwasanya Tauhid ini adalah modal seseorang untuk masuk ke dalam Surga-nya Allāh ﷻ. Tidak mungkin masuk ke dalam Surga kecuali orang yang mentauhidkan Allāh.

ʿAlā mā kāna min al-ʿamal, apapun dan bagaimanapun amalan yang dia bawa, maksudnya seandainya seseorang dia bertauhid dan dia juga melakukan kefasikan, kemaksiatan yang tidak membatalkan keislamannya, maka orang tersebut akan masuk ke dalam Surga.

Nah, masuknya dia ke dalam Surga, atau masuknya orang yang bertauhid ke dalam Surga, yang dimasuksud di dalam hadits ini ada dua makna:

Pertama, masuk ke dalam Surga dari awal langsung. Ini adalah ganjaran dan pahala bagi orang yang menyempurnakan Tauhidnya, maka dia akan masuk ke dalam Surga langsung tanpa dihisab, tanpa diadzab, sebagaimana nanti akan masuk ke dalam bab yang ketiga.

Kemudian yang kedua, masuk ke dalam Surga tetapi tidak langsung masuk ke dalam Surga. Akhirnya dia akan masuk ke dalam Surga, dia orang yang bertauhid tapi karena kemaksiatan, dosa yang dia lakukan, akhirnya dia terlebih dahulu diadzab oleh Allāh ﷻ di dalam Neraka kalau Allāh menghendaki. Maka dia akan masuk ke dalam Surga, tapi itu adalah akhirnya, dan diadzab terlebih dahulu di dalam Neraka kalau Allāh ﷻ menghendaki dia untuk diadzab.

Tapi yang jelas, hadits ini menunjukkan bahwa akhir dari keadaan seorang yang mentauhidkan Allāh adalah dia akan masuk ke dalam Surga-nya Allāh ﷻ.

Hadits ini dikeluarkan oleh Bukhārī dan juga Muslim.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer