Halaqah 13 | Pembahasan Hadits Itban ibn Malik, Abu Said Al Khudri, dan Anas ibn Malik
Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-13 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.
Beliau mengatakan
وَلَهُمَا فِي حَدِيثِ عِتْبَانَ: «فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إلَهَ إِلَّا اللَّهُ؛ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
Dan di dalam shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Itban, yaitu Itban ibn Malik Al-Anshari seorang sahabat Nabi ﷺ beliau meriwayatkan sebuah hadits, Sesungguhnya Allāh mengharamkan atas Neraka, orang yang mengatakan lā ilāha illallāh, yabtaghī bidzālika Wajh Allāh.
Hadits ini adalah hadits yang agung, menunjukkan tentang keutamaan Tauhid. Apa keutamaannya? Allāh akan mengharamkan darinya Neraka, atau mengharamkan atas Neraka orang tersebut. Artinya Allāh tidak akan memasukkan dia ke dalam Neraka.
Siapakah dia? Orang yang mengatakan lā ilāha illallāh. Sifatnya apa? Yabtaghī bidzālika Wajh Allāh. Dia mencari dengan ucapan tadi Wajah Allāh, ingin bertemu dengan Allāh, ingin bertemu dengan Allāh di dalam Surga, dan melihat Wajah Allāh. Berarti menunjukkan tentang keikhlasan dia di dalam mengucapkan lā ilāha illallāh. Tentunya ini adalah keutamaan yang besar. Bagi orang yang mengatakan lā ilāha illallāh dan dia ikhlas di dalam mengucapkan lā ilāha illallāh, Allāh tidak akan memasukkan dia ke dalam Neraka.
Dan para ulama menjelaskan, diharamkan masuk ke dalam Neraka di sini ada dua makna. Makna yang pertama, diharamkan maksudnya adalah sama sekali tidak masuk ke dalam Neraka. Dan ini adalah bagi orang yang menyempurnakan Tauhid, dan sangat ikhlas di dalam Tauhidnya.
Kemudian yang kedua, maksudnya di sini adalah diharamkan kekekalan. Diharamkan masuk ke dalam Neraka maksudnya adalah diharamkan untuk kekal di dalam Neraka. Artinya suatu saat dia akan dikeluarkan dari Neraka, tidak kekal selamanya di dalam Neraka. Dan ini tentunya bagi orang yang kurang Tauhid.
Dia orang yang bertauhid, tidak melakukan kesyirikan, tapi masih melakukan dosa-dosa besar. Kalau dia masuk ke dalam Neraka, maka Tauhid yang ada pada dirinya menjadi sebab dia tidak kekal di dalam Neraka. Dan tentunya ini adalah menunjukkan tentang keutamaan Tauhid.
Dan kekal di dalam Neraka, ini adalah kerugian yang sangat besar. Dan Allāh ﷻ memberikan keutamaan kepada orang yang bertauhid. Sehingga dia seandainya masuk ke dalam Neraka, dia tidak akan kekal di dalamnya.
وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَرْفُوعًا: «قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ! عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ، قَالَ: قُلْ يَا مُوسَى: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: يَا رَبِّ! كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُونَ هَذَا، قَالَ: يَا مُوسَى! لَوْ أَنَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي وَالأَرَضِينَ السَّبْعَ فِي كِفَّةٍ، وَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فِي كِفَّةٍ؛ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إلَهَ إِلَّا اللَّهُ» رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ، وَالحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ
Beliau mengatakan, dari Abū Saʿīd al-Khudrī, dari Rasulullah ﷺ, Mūsā berkata, Wahai Rabb, ajarkan kepadaku sesuatu yang aku mengingat-Mu dan aku berdoa kepada-Mu dengan sesuatu tersebut, maka Allāh ﷻ mengatakan “Katakanlah wahai Musa, lā ilāha illallāh”, dia disuruh untuk mengatakan lā ilāha illallāh, ini adalah sebaik-baik dzikir, dan seseorang bisa berdoa kepada Allāh dengan kalimat tersebut, bertawassul kepada Allāh dengan Tauhid.
Mūsā mengatakan: “Setiap hamba-hamba-Mu mengucapkan yang demikian.” Semua hamba Allāh ﷻ mengatakan lā ilāha illallāh, karena ini adalah kalimat Tauhid. Dan hamba Allāh, mereka adalah muwaḥḥidūn. Nabi Mūsā ʿAlaihissalām ingin sesuatu yang khusus bagi beliau. Karena ketika dikhususkan oleh Allāh dengan sesuatu, menunjukkan tentang keutamaan.
Maka Allāh berfirman: Wahai Musa, seandainya langit yang tujuh dan penghuninya selain Diri-Ku, dan bumi yang tujuh, dikumpulkan semuanya dalam satu daun timbangan, dan ini adalah tentunya jumlah yang banyak. Langit adalah makhluk yang besar. Dan dikumpulkan semuanya, tujuh langit ditambah lagi penghuni yang ada di dalam langit tersebut selain Allāh, ditaruh di daun timbangan. Wa lā ilāha illallāh fī kiffah, dan kalimat lā ilāha illallāh ditaruh di timbangan yang lain, maka niscaya kalimat lā ilāha illallāh ini yang akan lebih berat.
Ini menunjukkan kepada kita tentang keutamaan lā ilāha illallāh. Dan lā ilāha illallāh adalah kalimat Tauhid. Waja‘alaha kalimatan bāqiyah, kata Allah. Kalimat Tauhid, yaitu lā ilāha illallāh. Ternyata, kalau, seandainya itu ditimbang, ditaruh di sebuah daun timbangan, dan makhluk Allah, langit yang tujuh, dan penghuni yang ada di dalamnya, kecuali Allāh ﷻ, yaitu para malaikat, dan Allāh ﷻ, Dia berada di atas langit, di atas ‘Arsy. Kemudian ditambah lagi dengan bumi yang tujuh, niscaya yang lebih berat adalah kalimat lā ilāha illallāh.
Ini menunjukkan tentang keutamaan mengucapkan lā ilāha illallāh, dan bahwasanya timbangannya adalah sangat besar. Tapi dengan syarat tentunya, kalimat lā ilāha illallāh yang diucapkan oleh seseorang, ini adalah ucapan lā ilāha illallāh yang ikhlas, yang dia memahami maknanya dan meyakininya. Tentunya itulah yang dimaksud, bukan hanya sekadar mengucapkan.
Kalau hanya sekadar mengucapkan, sementara dia tidak meyakini apa yang ada di dalamnya dan dia tidak mengamalkan isinya, maka tentunya ini tidak akan bermanfaat seseorang mengucapkan lā ilāha illallāh. Ini menunjukkan tentang keutamaan mengucapkan lā ilāha illallāh. Dan hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Ḥibbān dan juga al-Ḥākim, dan dishaḥīhkan oleh beliau. Dan sebagian ulama ada yang mendha‘ifkan.
Tapi keutamaan lā ilāha illallāh dan bahwasanya dia adalah berat timbangannya di sisi Allāh ﷻ, ini adalah shahih. Dan Nabi ﷺ mengatakan: “Afdhaludz-dzikri lā ilāha illallāh”, sebaik-baik dzikir adalah lā ilāha illallāh, menunjukkan tentang besarnya pahala orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh. Demikian pula di dalam hadits yang lain, yaitu hadits al-bithaqah, hadits tentang kartu yang bertuliskan lā ilāha illallāh yang mengalahkan sembilan puluh sembilan kitab yang besar yang berisi tentang dosa. Ini adalah hadits yang shahih yang menunjukkan tentang beratnya timbangan lā ilāha illallāh.
Oleh karena itu, hendaklah kita semangat untuk bertauhid, supaya kita di hari kiamat memiliki ḥasanāt yang besar, timbangan yang besar di sisi Allāh ﷻ.
Kemudian beliau mendatangkan hadits qudsi,
وَلِلتِّرْمِذِيِّ وَحَسَّنَهُ: عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ! إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا؛ لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً».
Dan di dalam Sunan at-Tirmiżī, dan beliau menghasankannya, dari Anas ibn Mālik, “Aku mendengar Rasūlullāh ﷺ bersabda: Allāh berfirman, Wahai anak Ādam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, dan ini menunjukkan dosanya banyak sekali, kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apa pun, dosanya banyak tapi dia tidak melakukan dosa syirik, niscaya Aku akan mendatangi dirimu dengan ampunan sepenuh bumi juga.
Menunjukkan ampunan yang diberikan oleh Allāh ﷻ kepada orang tersebut juga banyak. Kenapa demikian? Karena dia tidak menyekutukan Allāh ﷻ. Dan ini menunjukkan tentang keutamaan Tauhid. Orang yang tidak menyekutukan Allāh ﷻ dengan yang lain, meskipun dosa yang banyak dia bawa di hari kiamat, akan diampuni oleh Allāh ﷻ kalau Allāh ﷻ menghendaki. Karena ini juga berkaitan dengan firman Allāh ﷻ:
وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Allāh mengampuni dosa yang di bawah itu bagi orang yang Allāh kehendaki.
Tapi yang jelas, ini menunjukkan bahwasanya orang yang bertauhid masih ada harapan untuk diampuni dosa-dosanya, berbeda dengan orang yang menyekutukan Allāh ﷻ. Dan ini menjadi syāhid dari ucapan beliau ketika beliau menyebutkan di judul bab ini: wa mā yukaffiru minadz-dzunūb. Dan bahwasanya Tauhid ini menghapuskan dosa. Di antara dalilnya adalah hadits ini.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Tidak ada komentar:
Posting Komentar