Selasa

Halaqah 23 | Pembahasan QS Ibrahim 35 dan Hadits Mahmud ibn Labid Riwayat Ahmad

 

Halaqah 23 | Pembahasan QS Ibrahim 35 dan Hadits Mahmud ibn Labid Riwayat Ahmad

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-23 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Beliau rahimahullāh mengatakan

وَقَالَ الخَلِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ﴿وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Berkata Al-Khalīl yaitu Ibrāhīm ‘alaihissalām: “Dan jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala.” (QS. Ibrāhīm: 35)

Ibrāhīm ‘alaihissalām, yang kita tahu beliau adalah Imām al-Muwahhidīn, imāmnya orang-orang yang mentauhidkan Allāh dan beliau adalah Khalīlullāh, orang yang sangat dicintai oleh Allāh ﷻ, dan beliaulah yang memecah ṣanam (berhala, patung) di zaman beliau, dan beliaulah yang telah berdakwah kepada tauhid, mendakwahkan tauhid ini kepada bapaknya dan kepada kaumnya dengan gigih, lalu diuji oleh Allāh ﷻ dan dicoba dengan dilemparkan oleh kaumnya ke dalam api. Semua itu adalah untuk menegakkan kalimat tauhid.

Namun lihat apa yang dikatakan oleh Ibrāhīm ‘alaihissalām. Saking takutnya dan sempurnanya rasa takut yang ada di dalam hatinya terhadap kesyirikan, yang merupakan lawan dari tauhid yang selama ini beliau dakwahkan, maka beliau berdoa kepada Allāh ﷻ dengan mengatakan:

“Yā Allāh, jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala.”

Di antara doa beliau kepada Allāh ﷻ adalah minta supaya dijauhkan diri beliau, seandainya ini diri beliau dan disana ada kesyirikan, maka minta dijauhkan sejauh-jauhnya, dan juga anak-anak beliau. Karena beliau penyayang dan memperhatikan kehidupan anak-anaknya, yang merupakan tanggung jawab beliau, dan kelak beliau akan ditanya oleh Allāh ﷻ sebagaimana kita akan ditanya tentang anak-anak tersebut.

Dan di antara isi amanat yang paling besar adalah bagaimana seseorang atau orang tua menjaga agama anaknya. Sehingga beliau berdoa kepada Allāh ﷻ dan mengatakan:

“Dan (jauhkanlah) anak-anakku dari menyembah berhala.”

Kenapa doa ini muncul dari beliau? Itu menunjukkan tentang rasa takut yang ada di dalam diri beliau. Padahal beliau adalah seorang Imām al-Muwahhidīn. Kenapa sampai muncul rasa takut di dalam hatinya? Karena ketika beliau melihat apa yang ada di sekitar beliau berupa kesyirikan yang menimpa kaumnya, menimpa bapaknya—sedangkan mereka adalah manusia seperti beliau—artinya kalau kesyirikan itu bisa menimpa mereka, maka kemungkinan juga bisa menimpa beliau, karena sama-sama manusia.

Karena adanya rasa takut tadi, akhirnya beliau berdoa kepada Allāh ﷻ. Timbul rasa takut di dalam hati beliau, yang akhirnya muncul di dalam lisan beliau berupa doa. Nah, kalau Ibrāhīm saja demikian keadaannya, padahal beliau adalah Khalīlullāh, lalu bagaimana dengan kita? Tentunya kita harusnya merasa lebih takut lagi, lebih khawatir lagi dengan fitnah ini. Kalau beliau semangat untuk berdoa, maka kita harus lebih semangat untuk berdoa dan takut dengan kesyirikan, serta takut terjerumus ke dalamnya.

Sehingga sebagian salaf, Ibrāhīm at-Taimī, beliau mengatakan:

“Man ya’manu al-balā’ ba’da Ibrāhīm?” — “Siapa yang merasa aman dari bala’ (musibah kesyirikan) setelah Ibrāhīm ‘alaihissalām?”

Artinya, kalau Ibrāhīm ‘alaihissalām saja demikian rasa takutnya, dan menjadikan beliau berdoa kepada Allāh, maka seharusnya kita—yang keimanannya jauh di bawah beliau—lebih takut lagi dengan kesyirikan ini.

Kemudian selanjutnya

وَفِي الحَدِيثِ: «أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ»، فَسُئِلَ عَنْهُ؟ فَقَالَ: «الرِّيَاءُ

Di dalam sebuah hadits, dan hadits ini adalah hadits Mahmud Ibnu Labid, diriwayatkan oleh al-Imām Ahmad di dalam Musnadnya, di dalamnya, Rasulullāh ﷺ mengatakan sesuatu yang paling aku takutkan atas kalian, di sini beliau berbicara dengan para sahabat, dengan orang-orang shalih:

“Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirkul-ashghar, yaitu syirik yang kecil.”

Di mana ini banyak menjangkiti orang-orang yang shalih. Adapun orang-orang yang mereka adalah orang-orang fāsiq, melakukan dosa-dosa yang besar, maka penyakit ini jarang menimpa mereka. Karena mereka tidak perhatian dengan amal shalihnya, sehingga penyakit yang akan disebutkan oleh Nabi ini tidak menimpa mereka, karena memang mereka tidak memperhatikan atau kurang perhatiannya terhadap amal shalih.

Adapun orang-orang yang shalih, maka dikhawatirkan dia terjangkiti oleh penyakit ini, syirkul-ashghar yaitu syirik yang kecil. Ini menunjukkan bahwa di sana ada syirik yang besar. Nah, yang ditakutkan oleh Beliau disini untuk orang-orang shalih tersebut adalah syirik yang kecil. Karena untuk syirik yang besar, sesuatu yang jelas bagi mereka. Istighatsah kepada selain Allāh, bernadzar kepada selain Allāh, berdoa kepada selain Allāh, ini adalah sesuatu yang jelas bagi mereka. Nah, yang beliau khawatirkan adalah yang tidak jelas, yang samar, yang kecil, yang bisa merusak amalan mereka, yaitu syirkul-ashghar, syirik yang kecil. Ini menunjukkan bahwa di sana ada syirik kecil dan di sana ada syirik yang besar.

Kemudian beliau mengatakan

فَسُئِلَ عَنْهُ؟ فَقَالَ: «الرِّيَاءُ

Beliau ditanya tentang apa itu syirik yang kecil, yang dimaksud adalah Ar-Riyā’.

Seseorang memperbaiki shalatnya misalnya, atau memperbaiki amalannya, karena sadar bahwa di sana ada orang yang melihatnya. Misalnya orang yang masuk dalam shalatnya, kemudian ketika tahu di sampingnya ada atau datang seseorang yang dia kenal, sengaja dia memperpanjang rukunya, atau sujudnya, atau berdirinya.

Kenapa dia melakukan itu? Untuk dilihat oleh manusia dan dipuji oleh manusia. Maka ini adalah di antara bentuk riya’. Nah, ini yang sering menjangkiti orang-orang yang beramal shalih, orang-orang yang beriman, yang mereka beramal shalih, syaitan ingin membatalkan dan ingin menggugurkan amal yang dia lakukan. Bagaimana caranya? Menggoda dia sehingga melakukan riya’ ini.

Maka inilah yang ditakutkan oleh Nabi ﷺ atas mereka, yaitu para sahabat dan juga para orang-orang yang shalih.

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imām Ahmad dengan sanad yang hasan. Menunjukkan tentang bahayanya syirik kecil, sampai Nabi ﷺ mengatakan:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ

“Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik yang kecil.”

Karena syirik kecil ini, para ikhwah sekalian dan juga para akhawāt, meskipun dia dinamakan dengan syirik yang kecil, tapi dia lebih besar daripada dosa-dosa besar. Jangan kita tertipu dengan kalimat ashghar di sini, kecil, kemudian kita anggap itu lebih kecil daripada dosa-dosa besar. Tidak. Meskipun dia adalah syirik yang kecil, tapi dia lebih besar daripada dosa-dosa besar.

Sehingga timbul dalam diri seseorang rasa takut terjerumus ke dalam jenis kesyirikan ini, yaitu syirik yang kecil. Sebagaimana dalam hadits ini. Demikian pula, tentunya kalau seseorang punya rasa takut terhadap syirik yang kecil, tentunya dia akan memiliki rasa takut terhadap syirik yang besar.

Maka hadits ini menunjukkan tentang keharusan kita untuk takut dari kesyirikan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer