Halaqah 20 | Pembahasan Atsar Hushain ibn Abdurrahman Bag 3
Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-20 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.
Berkata Syaikh disini
فِيهِ مَسَائِلُ
Di dalamnya ada beberapa permasalahan
الْأُولَى: مَعْرِفَةُ مَرَاتِبِ النَّاسِ فِي التَّوْحِيدِ
1. Hendaknya kita mengenal tingkatan-tingkatan manusia di dalam masalah Tauhid. Ternyata ada di antara mereka yang sampai derajat yang paling tinggi, yaitu orang yang mewujudkan Tauhid.
الثَّانِيَةُ: مَا مَعْنَى تَحْقِيقِهِ
2. Apa yang dimaksud dengan mewujudkan? Sudah kita sebutkan, maksudnya adalah kita meninggalkan segala hal yang bertentangan dengan Tauhid ini, baik syirik, bidʿah, maksiat. Demikian pula kalau bisa, dan ini adalah derajat yang lebih tinggi lagi, kita melakukan amalan-amalan hati dan merasa diawasi oleh Allāh ﷻ dalam setiap keadaan.
الثَّالِثَةُ: ثَنَاؤُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ بِكَوْنِهِ لَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
3. Ujian Allāh ﷻ kepada Nabi-Nya Ibrāhīm ketika Allāh ﷻ memuji beliau dengan mengatakan, beliau bukan termasuk orang-orang yang musyrik. Maksudnya adalah berlepas diri dari orang-orang musyrik, berlepas diri dari kesyirikan mereka, dan juga dari orang-orang yang melakukan kesyirikan tersebut.
الرَّابِعَةُ: ثَنَاؤُهُ عَلَى سَادَاتِ الْأَوْلِيَاءِ بِسَلَامَتِهِمْ مِنَ الشِّرْكِ
4. Ujian Allāh ﷻ kepada wali-wali-Nya karena mereka selamat dari kesyirikan. Yaitu ketika Allāh ﷻ mengatakan: وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ.
الْخَامِسَةُ: كَوْنُ تَرْكِ الرُّقَى وَالْكَيِّ مِنْ تَحْقِيقِ التَّوْحِيدِ
5. Bahwasanya meninggalkan ruqyah dan juga kay, yaitu pengobatan dengan besi panas, ini adalah termasuk pengwujudan Tauhid.
السَّادِسَةُ: كَوْنُ الْجَامِعِ لِتِلْكَ الْخِصَالِ هُوَ التَّوَكُّلُ
6. Bahwasanya yang menyatukan sifat-sifat yang empat tadi adalah bertawakal kepada Allāh ﷻ, sehingga dia tidak istirqāʾ, tidak iktawā, tidak yatatayyar, tidak melakukan tathayyur.
السَّابِعَةُ: عُمْقُ عِلْمِ الصَّحَابَةِ بِمَعْرِفَتِهِمْ أَنَّهُمْ لَمْ يَنَالُوهُ إِلَّا بِعَمَلٍ
7. Kedalaman ilmu sahabat karena mereka mengetahui bahwasannya masuk ke dalam Surga tanpa hisab dan juga tanpa adzab tidak mungkin kecuali dengan beramal. Makanya mereka menyebutkan beberapa kemungkinan: mungkin adalah para sahabat yang mereka berilmu dan beramal, mungkin mereka adalah orang yang lahir di tengah-tengah keluarga Muslim yang terjaga ibadahnya. Menunjukkan bahwasannya, yang namanya masuk ke dalam Surga tanpa hisab dan juga tanpa adzab ini harus beramal, tidak dengan bertopang kaki, bersantai-santai dan tidak mau beramal. Mereka adalah orang-orang yang beramal.
الثَّامِنَةُ: حِرْصُهُمْ عَلَى الْخَيْرِ
8. Semangatnya mereka untuk melakukan kebaikan, karena mereka bertanya siapakah mereka, karena mereka ingin mengamalkannya.
التَّاسِعَةُ: فَضِيلَةُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بِالْكَمِّيَّةِ وَالْكَيْفِيَّةِ
9. Keutamaan umat ini adalah dari sisi kuantitasnya dan juga kualitasnya. Secara kuantitas, kita yang paling banyak, dan secara kualitas juga demikian. كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ. Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan kepada manusia.
الْعَاشِرَةُ: فَضِيلَةُ أَصْحَابِ مُوسَى
10. Keutamaan para sahabat Mūsā, karena disebutkan di sini ditampakkan kepada Nabi ﷺ, umat Nabi Mūsā ‘alaihis salam.
الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ: عَرْضُ الْأُمَمِ عَلَيْهِ – عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
11. Dinampakkannya umat ini kepada beliau ﷺ sebagaimana dalam Hadits.
الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ: أَنَّ كُلَّ أُمَّةٍ تُحْشَرُ وَحْدَهَا مَعَ نَبِيِّهَا
12. Setiap umat ini dikumpulkan sendiri bersama Nabinya, sebagaimana dalam Hadits.
الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ: قِلَّةُ مَنْ اسْتَجَابَ لِلْأَنْبِيَاءِ
13. Sedikitnya orang-orang yang menjawab para Nabi. Sebagaimana Nabi menceritakan melihat seorang Nabi yang tidak sama sekali memiliki seorang pengikut, ada yang memiliki satu atau dua orang pengikut, dan seterusnya.
الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ: أَنَّ مَنْ لَمْ يُجِبْهُ أَحَدٌ يَأْتِي وَحْدَهُ
14. Bahwasanya orang yang tidak ada di antara manusia yang menjawab, beriman dengan apa yang beliau bawa, yang dibawa oleh Nabi tersebut, maka dia akan datang sendirian, dan di belakangnya tidak ada umatnya.
الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ: ثَمَرَةُ هَذَا الْعِلْمِ، وَهُوَ عَدَمُ الِاغْتِرَارِ بِالْكَثْرَةِ، وَعَدَمُ الزُّهْدِ فِي الْقِلَّةِ
15. Di antara buah dari ilmu ini: jangan kita tertipu dengan banyaknya manusia karena itu bukan ukuran kebenaran, dan jangan kita zuhud terhadap sesuatu yang sedikit. Meskipun yang melakukan adalah sedikit manusia, maka jangan kita enggan untuk melaksanakan apa yang mereka laksanakan kalau memang itu adalah kebaikan dan juga merupakan kebenaran. Maka jangan kita zuhud terhadap kesedikitan.
السَّادِسَةَ عَشْرَةَ: الرُّخْصَةُ فِي الرُّقْيَةِ مِنَ الْعَيْنِ وَالْحُمَةِ
16. Keringanan untuk melakukan ruqyah dari mata jahat atau dari sengatan.
السَّابِعَةَ عَشْرَةَ: عُمْقُ عِلْمِ السَّلَفِ؛ لِقَوْلِهِ: «قَدْ أَحْسَنَ مَنْ انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ، وَلَكِنْ كَذَا وَكَذَا»، فَعُلِمَ أَنَّ الْحَدِيثَ الْأَوَّلَ لَا يُخَالِفُ الثَّانِيَ
17. Kedalaman ilmu salaf, karena ucapan Sa‘īd bin Jubair ketika mengatakan: “Sungguh telah berbuat baik orang yang beramal sesuai dengan apa yang dia dengar. Akan tetapi demikian dan demikian.” Menunjukkan bahwasannya Sa‘īd bin Jubair mengetahui tentang dua hadits ini. Hadits yang pertama beliau mengetahuinya, dan hadits yang kedua beliau juga mengetahuinya, sehingga beliau mengatakan bisa menjamak di antara keduanya. Maka diketahui bahwasannya hadits yang pertama ini tidak menyelisihi hadits yang kedua. Jadi ucapan Nabi لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ tidak bertentangan dengan hadits ini, karena orang yang misalnya terkena mata jahat atau terkena sengatan, dia bisa mengamalkan hadits yang pertama dan bisa mengamalkan hadits yang kedua.
Bagaimana caranya? Dia meruqyah sendiri. Orang yang meruqyah sendiri maka dia bisa mengamalkan hadits yang pertama, karena Nabi ﷺ mengatakan: “Tidak ada ruqyah yang lebih bermanfaat daripada ruqyah dari mata jahat dan juga dari sengatan.” Maka dia telah mengamalkannya. Kemudian dia juga mengamalkan hadits yang kedua, karena dia tidak meminta orang lain untuk meruqyah. Dia mendahulukan, mengutamakan untuk meruqyah dirinya sendiri. Jadi ini menunjukkan bahwasannya hadits yang pertama tidak bertentangan dengan hadits yang kedua.
الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ: بُعْدُ السَّلَفِ عَنْ مَدْحِ الْإِنْسَانِ بِمَا لَيْسَ فِيهِ
18. Jauhnya para salaf dari dipuji oleh seseorang dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya. Diambil dari ucapan Ḥusayn ibn ‘Abdurraḥmān: “Ketahuilah bahwasannya aku saat itu tidak dalam keadaan ṣalāh, akan tetapi aku dalam keadaan tersengat.” Supaya jangan sampai ada yang memuji beliau atau menganggap beliau melihat bintang yang jatuh karena malam itu dia dalam keadaan menghabiskan malamnya untuk ṣhalāt. Beliau memang saat itu tidak bisa tidur karena tersengat. Ini menunjukkan bagaimana dia berusaha untuk tidak memiliki dalam hatinya rasa senang dipuji oleh orang lain dengan sesuatu yang tidak ada pada diri beliau.
التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ: قَوْلُهُ: «أَنْتَ مِنْهُمْ» عَلَمٌ مِنْ أَعْلَامِ النُّبُوَّةِ
19. Ucapan Beliau ﷺ: “Engkau adalah termasuk mereka,” ini adalah tanda di antara tanda-tanda kenabian. Karena ini perkara yang ghaib; seseorang termasuk penduduk surga atau termasuk penduduk neraka, ini adalah perkara yang ghaib. Allāh ﷻ, Dialah yang mengetahui. Ketika Nabi ﷺ mengabarkan kabar tersebut, maka diketahui bahwasannya beliau mendapatkan kabar tersebut dari Allāh ﷻ. Dan itulah Nabi, diwahyukan kepada beliau oleh Allāh ﷻ.
الْعِشْرُونَ: فَضِيلَةُ عُكَّاشَةَ
20. Keutamaan ‘Ukkāsyah. Dan bahwasannya beliau termasuk orang yang memiliki tawḥīd yang sebaik-baiknya, sesempurna-sempurnanya, sehingga beliau termasuk 70 ribu orang yang masuk ke dalam surga tanpa ḥisāb dan juga tanpa ‘adzāb.
الْحَادِيَةُ وَالْعِشْرُونَ: اسْتِعْمَالُ الْمَعَارِيضِ
21. Penggunaan al-ma‘ārīḍ. Yang dimaksud dengan ma‘ārīḍ adalah sebuah ungkapan yang disampaikan oleh seseorang, dia memaksudkan dengan ungkapan tadi sebuah makna, tapi dipahami oleh orang lain dengan makna yang lain. Di sini Nabi ﷺ mengatakan: “Sabaqa-ka bihā ‘Ukkāsyah” — “Ukkāsyah telah mendahuluimu.” Orang lain memahami maksudnya adalah sudah tidak ada kesempatan di sana untuk masuk di dalam 70 ribu tadi, seakan-akan itu yang bisa dipahami, sehingga tidak ada setelahnya orang yang meminta didoakan oleh Nabi ﷺ. Namun maksud beliau di sini adalah, Allāhu a’lam, sabaqa-ka bihā ‘Ukkāsyah — maksudnya Ukkāsyah telah mendahului antum semuanya dalam memohon. Bukan berarti bahwasannya selain Ukkāsyah mereka bukan termasuk dan tidak mungkin termasuk dalam 70 ribu orang. Bukan berarti demikian. Tapi ketika Nabi ﷺ mengatakan sabaqa-ka bihā ‘Ukkāsyah, seakan-akan dipahami demikian, padahal maksud beliau adalah ingin mengatakan bahwasannya Ukkāsyah ini telah mendahului kalian di dalam meminta. Wallāhu a’lam.
الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُونَ: حُسْنُ خُلُقِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
22. Baiknya akhlak Nabi ﷺ. Karena beliau berusaha untuk menolak permintaan-permintaan yang selanjutnya, karena ini akan tidak ada habisnya, semua dan masing-masing ingin didoakan oleh Nabi ﷺ. Sehingga bagaimana cara beliau untuk menghentikan itu? Tentunya tidak dengan mengatakan: “Kalian jangan meminta lagi,” atau ucapan-ucapan yang mungkin di mata sebagian adalah ucapan yang kasar. Tapi beliau mengatakan: sabaqa-ka bihā ‘Ukkāsyah — “Telah mendahului kalian Ukkāsyah,” yang dengannya beliau mengisyaratkan supaya berhenti, tidak ada yang meminta setelah itu. Dan ini adalah cara yang baik. Dan sampai sekarang sebagian ketika ingin menolak dengan lembut, mereka menggunakan ungkapan seperti ini. Kalau misalnya ada sesuatu yang jumlahnya terbatas, kemudian dibagikan misalnya, lalu yang lain sudah mengambil, kemudian datang seseorang dalam keadaan terlambat, dan apa yang dibagikan sudah habis, maka dikatakan: sabaqa-ka bihā ‘Ukkāsyah — “Ukkāsyah telah mendahului dirimu.”
Akhirnya kita sampai kepada penghujung di ḥalaqah kali ini. Dan dengan demikian kita telah membaca bersama bab yang ketiga dari kitab ini, yang berkaitan dengan keutamaan orang yang mewujudkan tawḥīd dan bahwasannya dia termasuk orang yang akan masuk surga tanpa ḥisāb dan juga tanpa ‘adzāb. Semoga dengan kita membaca dalīl yang dibawakan oleh pengarang, penulis raḥimahullāh, baik dari āyat maupun dari hadits, dan mengetahui tentang keutamaan orang yang mewujudkan tawḥīd, tergugah hati kita dan bersemangat, memiliki keinginan yang kuat untuk masuk di dalam golongan tersebut.
Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan mewujudkan tawḥīd dengan sebenar-benarnya. Dan tentunya tidak mungkin seseorang bisa bertawḥīd, dan tidak mungkin bisa mewujudkan tawḥīd dengan sebenar-benarnya, kecuali kalau pertama dia harus mempelajari terlebih dahulu. Dia harus belajar tentang tawḥīd, maknanya, dan mempelajari tentang kesyirikan dan macam-macamnya. Yang demikian supaya dia benar-benar bisa mewujudkan tawḥīd di dalam dirinya. Wallāhu Ta‘ālā a‘lam.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Tidak ada komentar:
Posting Komentar