Selasa

Halaqah 19 | Pembahasan Atsar Hushain ibn Abdurrahman Bag 2

 

Halaqah 19 | Pembahasan Atsar Hushain ibn Abdurrahman Bag 2

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Setelah mendengar alasan dari Hussain ibn Abdurrahman, maka berkata Saʿid,

قَالَ: قَدْ أَحْسَنَ مَنِ انْتَهَى إِلَى مَا سَمِعَ

“Sungguh telah berbuat baik orang yang beramal sesuai dengan apa yang dia dengar.”

وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، أَنَّهُ قَالَ

Akan tetapi, kata Saʿid, dan beliau sebagai seorang guru mungkin memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh muridnya.

Akan tetapi, telah mengabarkan kepadaku Ibn ʿAbbās dari Nabi ﷺ, bahwasanya beliau bersabda. Beliau memiliki hadits yang dengannya akan bisa dipahami, permasalahan ini dengan lebih sempurna. Bahwasanya Nabi ﷺ mengatakan

عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ

“Ditampakkan atasku para umat, yaitu umat-umat sebelum beliau, maka aku melihat ada seorang Nabi yang bersamanya ar-rahtu. Ada yang mengatakan ar-rahtu di sini adalah sekelompok manusia yang jumlahnya dari tiga sampai sepuluh atau tiga sampai sembilan. Beliau melihat ada seorang Nabi yang pengikutnya hanya segitu jumlahnya, antara tiga sampai sembilan atau tiga sampai sepuluh orang.

وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ

Ada seorang Nabi juga yang bersamanya hanya seorang dan dua orang.

وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

Dan beliau melihat ada seorang Nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.

Ketika dalam keadaan demikian,

إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ

kata beliau, tiba-tiba ditampakkan kepada beliau sebuah kelompok yang besar. Kalau tadi hanya satu, dua, ada yang tidak punya sama sekali, dan ada yang memiliki tiga sampai sepuluh atau tiga sampai sembilan, tiba-tiba ada ditampakkan kepada beliau sebuah kelompok yang besar.

فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي

Maka aku menyangka bahwasanya mereka ini adalah umatku, karena beliau tahu umat beliau banyak. Maka tidak heran kalau beliau menyangka itu adalah umat beliau.

فَقِيلَ لِي: هَذَا مُوسَى وَقَوْمُهُ

Ini adalah Musa dan juga kaumnya, bukan umatnya Nabi Muhammad ﷺ.

فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ، فَقِيلَ لِي: هَذِهِ أُمَّتُكَ

Kemudian Beliau melihat lagi ternyata di sana ada kelompok yang besar yang lain, dikatakan kepada Beliau inilah umatmu, menunjukkan tentang banyaknya umat Rasulullah ﷺ.

وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ

Kemudian dikatakan kepada beliau bahwasanya kelompok yang besar ini, umat yang besar ini, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk ke dalam Surga tanpa hisab dan juga tanpa adzab.

Di antara umat beliau tadi, yang beliau pimpin, yang beliau adalah Nabi mereka, ada di antara mereka yang termasuk tujuh puluh ribu orang yang akan masuk Surga tanpa hisab dan juga tanpa adzab.

ثُمَّ نَهَضَ، فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ

Kemudian akhirnya beliau bangkit dari tempatnya, kemudian memasuki rumah beliau.

فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ

Maka manusia pun saling berbicara satu dengan yang lain, mengira-ngira siapa mereka tujuh puluh ribu orang ini yang akan masuk Surga tanpa hisab dan juga tanpa adzab. Dan mereka sangat berkeinginan untuk masuk di dalam golongan mereka ini.

فَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمُ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ

Maka sebagian mereka mengatakan: mungkin mereka ini adalah orang-orang yang menjadi sahabat Rasulullah ﷺ.

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمُ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الإِسْلَامِ فَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ  شَيْئًا

Mereka sebagian mengatakan, mungkin, karena mereka tidak bisa memastikan, bahwasanya mereka ini adalah orang-orang yang dilahirkan di dalam agama Islam, kemudian mereka tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apa pun.

Mereka menganggap ini adalah sebuah keistimewaan, seseorang tidak merasakan jahiliyah dan tidak pernah menyembah selain Allāh. Dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang Muslim, dan dia tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apa pun.

وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ

Mereka menyebutkan beberapa perkara, bukan hanya dua pendapat tadi.

فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَأَخْبَرُوهُ

Maka Rasulullah ﷺ keluar dari rumahnya dan menuju kepada mereka. Kemudian mereka pun mengabarkan kepada Nabi, yaitu apa yang terjadi, perselisihan para sahabat di dalam memperkirakan siapa orang-orang yang masuk Surga tanpa hisab dan juga tanpa adzab.

فَقَالَ: «هُمُ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ، وَلَا يَكْتَوُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, mereka tidak meminta orang lain untuk meruqyah, meskipun itu adalah perkara yang boleh. Tapi mereka tidak ingin, karena perkara yang boleh tadi akhirnya lama kelamaan hati mereka bisa tergantung kepada ruqyah itu sendiri, atau bergantung kepada orang yang meruqyahnya. Dan ini sering terjadi, seseorang kalau tidak si Fulan yang meruqyah maka dia tidak merasa tenang.

Kemudian juga wa lā yaktawūn, di antara sifat mereka, mereka tidak minta orang lain untuk mengobati dia dengan besi panas. Sama, ya, sebabnya karena dikhawatirkan akan bergantung kepada orang yang melakukan kayy tadi, dan juga bergantung kepada tata caranya.

Wa lā yatatayyaron, dan mereka tidak bertathayyur, meyakini tentang kesialan sesuatu karena melihat hewan atau melihat pemandangan yang tidak mengenakkan. Kemudian dia bertathayyur, yaitu menganggap akan terjadi musibah demikian dan demikian.

Wa ʿalā rabbihim yatawakkalūn, dan mereka hanya bertawakal kepada Allāh saja, sempurna ketawakalannya, memahami dan mengakui bahwasannya manfaat dan juga mudharat ini adalah di tangan Allāh. Sangat sempurna ketawakalan yang ada di dalam dirinya, sehingga sampai sesuatu yang boleh sekalipun mereka tinggalkan, seperti minta ruqyah dari orang lain atau meminta pengobatan dengan besi panas dari orang lain. Kalau yang demikian saja mereka tinggalkan, apalagi yang syirik kecil, apalagi yang syirik besar. Menunjukkan bahwasannya mereka mewujudkan Tauhid mereka dengan sebenar-benarnya.

فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ، فَقَالَ: اُدْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ

Maka berdirilah seorang sahabat bernama ʿUkkāsyah ibn Miḥshan. Dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allāh supaya Allāh menjadikan aku termasuk golongan mereka.” Demikian para sahabat, mereka semangat untuk masuk dalam golongan tadi sehingga meminta doa dari Nabi.

فَقَالَ: «أَنْتَ مِنْهُمْ

Maka Nabi mengatakan, “Engkau termasuk golongan mereka,” yaitu termasuk 70 ribu yang akan masuk Surga tanpa hisab dan juga tanpa adzab.

ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ، فَقَالَ: اُدْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ

Kemudian berdirilah laki-laki yang lain. Dia mengatakan, “Berdoalah kepada Allāh supaya Allāh menjadikan aku termasuk mereka,” sama dengan doanya ʿUkkāsyah.

فَقَالَ: «سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ

Maka Nabi mengatakan, “ʿUkkāsyah telah mendahului dirimu.”

Dengan ucapan ini, maka si Fulan dan juga yang lain akan berhenti, tidak meminta seperti yang dipinta oleh ʿUkkāsyah ibn Miḥshan. Karena kalau dibuka perkaranya, ya, nanti tidak akan selesai, berapa jumlah para sahabat dan masing-masing dari mereka berharap untuk masuk ke dalam Surga tanpa hisab dan juga tanpa adzab. Akhirnya dengan adabnya, Nabi mengatakan, “ʿUkkāsyah telah mendahului dirimu,” yaitu mendahului dalam meminta.

Dan ini tidak menafikan bahwasannya ada di antara selain ʿUkkāsyah yang mereka juga masuk Surga tanpa hisab dan juga tanpa adzab. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan juga Muslim.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer