Halaqah 17 | Pembahasan QS Al Mukminun 59
Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-17 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.
Beliau mendatangkan tiga dalil di dalam bab ini, dua di antaranya adalah dari Al-Qur’an, dan yang ketiga adalah dari Hadits Nabi ﷺ.
Ayat yang selanjutnya, yang menunjukkan tentang orang yang mewujudkan Tauhid, maka dia akan masuk Surga tanpa hisab dan juga tanpa adzab adalah firman Allāh ﷻ di dalam QS. Al-Mu’minūn. Allāh ﷻ mengatakan,
وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ
Dan orang-orang yang mereka tidak menyekutukan Allāh.
Dalam ayat ini, Allāh ﷻ berbicara tentang sifat hamba-hamba-Nya yang mereka memiliki derajat yang tinggi di dalam iman, di dalam mewujudkan Tauhid (Al-Muminūn ayat 57-61)
إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ
Di antara sifat mereka, sesungguhnya orang-orang yang mereka takut kepada Rabbnya, takut yang diiringi dengan kemauan untuk beramal shalih, diiringi dengan meninggalkan kemaksiatan.
وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ
Dan orang-orang yang mereka beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka.
Baik ayat-ayat yang syar’iyyah, yang diturunkan oleh Allāh di dalam Kitab, maupun ayat-ayat yang kauniyyah. Mereka beriman dengan kedua ayat tersebut, iman yang disertai dengan amalan. Beriman dengan ayat-ayat Allāh yang syar’iyyah di dalam Al-Qur’an disertai dengan amalan. Beriman dengan ayat-ayat kauniyyah, makhluk yang diciptakan oleh Allāh, dan bahwasannya itu adalah menunjukkan Qudratullāh, menunjukkan tentang Ilmu Allāh, dan seterusnya. Kemudian di antara sifat mereka,
وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ
Dan mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Rabb mereka.
Karena Allāh ﷻ, Dialah Rabb mereka yang menciptakan mereka, memberikan rezeki kepada mereka, mengatur alam semesta. Maka mereka pun tidak menyekutukan Allāh dengan yang lain, mewujudkan Tauhid di dalam diri mereka. Termasuk di antaranya adalah tentunya mereka tidak melakukan bid’ah di dalam agama, karena hakikat dari kebid’ahan seakan-akan menjadikan di sana selain Allāh yang memberikan syariat.
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu (selain Allāh) yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan oleh Allāh? (QS. Asy-Syūrā: 21)
Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu, kata Allāh, yang mereka mensyariatkan untuk mereka sesuatu yang tidak Allāh izinkan, mensyariatkan untuk mereka sesuatu yang tidak Allāh izinkan, seakan-akan dia menjadikan selain Allāh sebagai Dzat yang berhak untuk memberikan syariat. Ini sesuatu yang disunnahkan, ini yang diwajibkan, padahal tidak pernah dikatakan oleh Nabi ﷺ.
Demikian pula masuk di dalamnya, mereka tidak berbuat maksiat, terus-terusan melakukan kefasikan. Karena orang yang melakukan kefasikan berarti dia mengikuti hawa nafsunya, lebih memilih mengikuti hawa nafsunya daripada mentaati perintah Allāh.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
Bagaimana pendapatmu tentang orang yang menjadikan sesembahannya adalah hawa nafsunya. (QS. Al-Jāṡiyah: 23)
Yang sebelumnya, ketika kita mengatakan bahwasanya masuk di dalamnya, mereka tidak melakukan bid’ah, mereka tidak melakukan kemaksiatan, bukan berarti bahwasanya maksiat dan juga bid’ah ini setara dengan kesyirikan. Tidak, tetapi dia adalah syu’bah, dia adalah cabang, tapi tidak sampai kepada kesyirikan yang besar yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam.
Sifat mereka di antaranya adalah,
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Mereka adalah orang-orang yang menginfakkan apa yang mereka infakkan. Ini termasuk kesempurnaan Tauhid mereka. Mereka memiliki harta, tapi mereka tidak menjadikan harta tersebut di dalam hati mereka, bergantung kepadanya dan senantiasa memikirkan harta tersebut. Tidak, mereka berinfaq, dan ketika berinfaq dalam keadaan hati mereka takut, mereka akan kembali kepada Allāh, karena mereka tahu bahwasanya hartanya tidak akan selamanya, dan dia sebagai pemilik harta tidak akan selamanya di dunia. Mereka akan kembali kepada Allāh. Mungkin orangnya terlebih dahulu yang kembali kepada Allāh, atau hartanya musnah terlebih dahulu.
أُوْلَـٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ
Merekalah orang-orang yang bersegera di dalam kebaikan, mewujudkan Tauhid dengan sebenarnya. Di antara sifat mereka adalah bersegera dalam kebaikan, bukan orang yang menunda-nunda. Tahu di depannya ada kebaikan, dia bersegera melaksanakan shalat berjamaah pada waktunya di masjid. Kalau dia memiliki harta, maka dia segera berlomba dengan yang lain untuk menginfakkan hartanya fī sabīlillāh. Kalau dia melihat di sana ada akhlak yang hendaknya dimiliki oleh seorang Muslim, maka dia bersegera berakhlak dengan akhlak tersebut dan meninggalkan kebiasaan buruknya.
Ini adalah sikap dan sifat orang-orang yang mewujudkan Tauhidnya. Terwujud Tauhid yang ada di dalam dirinya terlihat pada anggota badannya.
وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ
Dan merekalah orang-orang yang akan mendahului ke dalam Surga.
Demikian, dijelaskan oleh sebagian masyaikh, mereka mendahului yang lain menuju Surga tersebut. Dan termasuk di antaranya berarti mereka mendahului yang lain, yang lain belum masuk ke dalam Surga, mereka terlebih dahulu masuk ke dalam Surga, karena mereka di dalam perjalanan menuju Surga tidak dihisab dan juga tidak diadzab oleh Allāh ﷻ. Maka mereka pun menjadi orang-orang yang masuk ke dalam Surga sebelum yang lain. Ini menunjukkan tentang balasan orang-orang yang mewujudkan Tauhid.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Tidak ada komentar:
Posting Komentar