Selasa

Halaqah 16 | Penjelasan Umum Bab 03 dan Pembahasan QS An Nahl 120

 

Halaqah 16 | Penjelasan Umum Bab 03 dan Pembahasan QS An Nahl 120

Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-16 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.

Masuk kita pada bab yang baru yaitu bab yang ketiga di dalam kitab ini, yaitu

بَابُ مَنْ حَقَّقَ التَّوْحِيدَ؛ دَخَلَ الجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Bab barang siapa yang mewujudkan Tauhid maka dia akan masuk ke dalam Surga tanpa hisab.

Di bab sebelumnya, beliau raḥimahullāh menyebutkan tentang Faḍlu at-Tawḥīd (Bābu Faḍli at-Tawḥīdi wa Mā Yukaffiru Min ad-Dhunūbi), bab tentang keutamaan Tauhid dan bagaimana Tauhid itu menghapuskan dosa-dosa. Di bab yang sebelumnya ini, beliau raḥimahullāh menyebutkan tentang keutamaan Tauhid dan keutamaan orang yang bertauhid secara umum. Semua Ahlut Tauhid mendapatkan keutamaan tersebut. Namun, di dalam bab ini beliau menyebutkan keutamaan yang istimewa, yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang benar-benar mewujudkan Tauhid di dalam dirinya, dan bahwasanya dia akan masuk Surga tanpa dihisab. Dan di sebagian nuskhah berbunyi bighayri ḥisābin wa lā ʿadzāb, masuk ke dalam Surga tanpa dihisab terlebih dahulu dan tanpa diazab.

Maka tentunya ini adalah keutamaan yang besar dan keistimewaan yang luar biasa bagi mereka-mereka ini, yaitu masuk Surga Allāh ﷻ tanpa ada di sana halangan, tidak ada di sana rintangan, tidak ada sesuatu yang menakutkan dia. Tidak akan dihisab oleh Allāh ﷻ, dan hisab di hari kiamat adalah bukan perkara yang ringan. Ketika seseorang tidak dihisab oleh Allāh ﷻ maka tentunya ini adalah kenikmatan yang luar biasa. Ditambah lagi dia tidak akan masuk ke dalam Neraka, tidak akan diazab oleh Allāh terlebih dahulu, karena kesempurnaan Tauhid yang ada di dalam dirinya, karena sebab dia mewujudkan Tauhid.

Dan yang dimaksud dengan mewujudkan Tauhid adalah menguatkan Tauhidnya, menetapkan Tauhidnya, menyelamatkan Tauhidnya dari segala apa yang bertentangan dengan Tauhid. Mewujudkan Tauhid maksudnya adalah mewujudkan Tauhid pada diri seseorang sehingga Tauhid tersebut selamat dari segala hal yang bertentangan dengan Tauhid tersebut, baik bertentangan dalam arti membatalkan, seperti misalnya syirik yang besar, kekufuran, kenifakan — maka ini bertentangan dengan Tauhid dan dia membatalkannya — atau sesuatu yang bertentangan tetapi tidak sampai membatalkan, tapi dia mengurangi keimanan yang wajib, seperti orang yang melakukan bid’ah di dalam agama. Meskipun dia tidak membatalkan keislamannya, tetapi dia telah mengurangi keimanan yang wajib, berdosa. Dan selamat Tauhid tersebut dari kemaksiatan yang juga mengurangi kesempurnaan Tauhid seseorang.

Jadi orang tersebut benar-benar mewujudkan Tauhid, meninggalkan kesyirikan yang kecil maupun yang besar, meninggalkan berbagai bid’ah, meninggalkan berbagai kemaksiatan. Murni terwujud Tauhidnya di dalam dirinya dengan baik.

Demikian pula, di sana ada tingkatan yang lebih tinggi daripada itu, bukan hanya dia meninggalkan perkara yang bertentangan dengan Tauhid baik kesyirikan, bid’ah, maupun kemaksiatan, tetapi dia juga menyempurnakan amalan, baik amalan hatinya maupun amalan dzahirnya, melakukan perkara-perkara yang disunahkan, menjaga anggota badannya dan tidak menggerakkan anggota badannya kecuali karena Allāh, berbicara karena Allāh, melihat karena Allāh, mendengar karena Allāh, menggerakkan kakinya karena Allāh, dan seterusnya, karena merasa diawasi oleh Allāh ﷻ.

Maka tentunya, derajat yang seperti ini lebih tinggi daripada derajat orang yang hanya meninggalkan perkara yang bertentangan dengan Tauhid, tetapi tidak sampai kepada derajat yang kedua. Tapi keduanya termasuk orang yang menegakkan Tauhid, mewujudkan Tauhid di dalam dirinya.

Beliau mendatangkan tiga dalil di dalam bab ini, dua di antaranya adalah dari Al-Qur’an, dan yang ketiga adalah dari Hadits Nabi ﷺ. Beliau mengatakan:

وَقَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Dan firman Allāh: Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummah yang taat kepada Allāh lagi hanif dan sekali-kali tidaklah dia termasuk orang-orang musyrik. (QS. An-Naḥl: 120)

Allāh ﷻ mengatakan di dalam QS. An-Naḥl ayat 120 dan setelahnya tentang Nabi Ibrahim `Alayhi as-Salām, dan bahwasanya beliau adalah termasuk orang yang mewujudkan Tauhid dengan sebenar-benarnya di dalam diri beliau, dengan sifat-sifat yang merupakan sifat-sifat kesempurnaan bagi seorang manusia, bagi seorang hamba Allāh. Dan di dalam ayat berikutnya akan disebutkan tentang balasan bagi beliau `Alayhi as-Salām di dunia maupun di akhirat.

Allāh mengatakan:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ

Sesungguhnya Ibrahim adalah ummah.

Yang dimaksud dengan ummah adalah imam, imam yang diteladani oleh yang lain. Dalam ayat yang lain Allāh mengatakan:

إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

Sesungguhnya Aku menjadikanmu sebagai imam bagi manusia. (QS. Al-Baqarah: 124)

Kenapa beliau adalah ummah, kenapa beliau adalah imam yang diteladani oleh manusia? Karena beliau memiliki banyak sifat-sifat kesempurnaan bagi seorang hamba Allāh, sehingga pantaslah beliau dikatakan oleh Allāh ﷻ sebagai ummah. Termasuk di antaranya adalah dalam masalah Tauhid, ittibāʿ-nya terhadap risalah Allāh, meninggalkan kemaksiatan, merasa diawasi oleh Allāh ﷻ dalam ucapannya, dalam perbuatannya, dan sifat-sifat kebaikan yang lain.

Maka Ibrahim `Alayhi as-Salām, beliau adalah ummah, seorang imam yang diteladani oleh yang lain, memiliki sifat-sifat yang baik, yang terpuji, yang disenangi oleh Allāh ﷻ. Tentunya di antaranya adalah mentauhidkan Allāh yang merupakan perintah yang paling besar, yang Allāh perintahkan kepada hamba-Nya.

قَانِتًا لِلَّهِ

Selain beliau adalah seorang yang diteladani, imam bagi manusia, maka beliau adalah orang yang khusyuʿ dan menjaga ketaatan kepada Allāh. Qānitan maksudnya adalah muṭhīʿan, taat kepada Allāh, dan beliau istiqamah di dalam ketaatannya. Bukan seseorang yang senang bermaksiat kepada Allāh ﷻ, atau orang yang hanya sementara melakukan ketaatan, adapun di sebagian besar waktunya dia melakukan kemaksiatan. Tidak, beliau `Alayhi as-Salām adalah qānitan lillāh, yaitu orang yang menjaga ketaatannya kepada Allāh, istiqamah, dan ini tentunya termasuk perwujudan dari Tauhid.

حَنِيفًا

Dan beliau adalah orang yang hanif, yaitu yang hanya menghadap kepada Allāh, meninggalkan segala sesembahan selain Allāh. Hatinya hanya menuju kepada Allāh, wajahnya hanya menuju kepada Allāh. Tidak ada di sana ketergantungan kepada selain Allāh ﷻ. Beliau adalah seorang yang hanif.

Kemudian:

وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Dan bukanlah beliau termasuk orang-orang yang musyrikin, berlepas diri dari orang-orang yang musyrikin, bukan termasuk golongan mereka. Ini menunjukkan kesempurnaan Tauhid beliau. Beliau hanya menyembah kepada Allāh dan beliau berlepas diri dari kesyirikan serta berlepas diri dari orang-orang musyrikin.

Kemudian disebutkan dalam ayat setelahnya:

شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Lagi yang mensyukuri nikmat-nikmat Allāh. Allāh telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. (QS. An-Naḥl: 121)

Di antara sifatnya adalah beliau adalah orang yang pandai bersyukur terhadap nikmat-nikmat Allāh. Dan ini termasuk perwujudan Tauhid, bukan kufur terhadap nikmat yang Allāh berikan. Allāh telah memilih beliau dan memberikan petunjuk kepada beliau kepada jalan yang lurus.

Lihat balasannya yang Allāh berikan kepada Nabi Ibrahim `Alayhi as-Salām, orang yang mewujudkan Tauhid.

وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

Dan Kami telah berikan kepadanya di dunia ini kebaikan. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shāliḥ. (QS. An-Naḥl: 122)

Di dunia, sebelum di akhirat, sudah diberikan ḥasanah oleh Allāh ﷻ, sesuatu yang baik, yaitu memiliki kehidupan yang ṭayyibah, penuh dengan ketenteraman, penuh dengan kedamaian, penuh dengan kenikmatan yang hakiki. Bukan kenikmatan yang semu yang dirasakan oleh sebagian orang, yang diakhiri dengan rasa sakit dan tidak menemukan di dalam kenikmatan tadi ketenangan. Itu bukan kehidupan yang baik.

Adapun Ibrahim, maka diberikan oleh Allāh ﷻ kebaikan di dunia, sebagai seorang Nabi, memiliki anak-anak yang shāliḥ, memiliki istri yang shāliḥah. Maka tentunya itu adalah kebaikan bagi beliau di dunia.

Dan di akhirat beliau adalah termasuk orang-orang yang shāliḥin. Sebagian menafsirkan shāliḥīn di sini adalah fāʾizīn. Beliau di akhirat termasuk orang-orang yang beruntung, dan makna beruntung di antaranya adalah masuk ke dalam Surga tanpa hisab dan juga tanpa adzab.

Ini menunjukkan bagaimana balasan Nabi Ibrahim `Alayhi as-Salām yang mewujudkan Tauhid dengan sebenar-benarnya, sehingga beliau masuk ke dalam Surga dan diberikan oleh Allāh keberuntungan di akhirat dan sebelumnya di dunia. Dan termasuk di antara keberuntungan tadi adalah masuk ke dalam Surga, dan masuk ke dalam Surga tanpa hisab dan juga tanpa adzab.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

image_pdfimage_print

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer