Halaqah 15 | Kandungan-Kandungan Dalam Bab 2 Bag 2
Kitab: Kitabut Tauhid
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله
Halaqah yang ke-15 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Kitābut-Tauḥīd alladzhī huwa ḥaqqullāhi ʿalal ʿabīd yang ditulis oleh Al-Imām al-Mujaddid Muḥammad ibn ʿAbdil Wahhāb ibn Sulaimān At-Tamīmī raḥimahullāh.
Beliau mengatakan
فِيهِ مَسَائِلُ
Di dalamnya ada beberapa permasalahan, yaitu faedah-faedah yang bisa kita ambil dari ayat dan juga hadits-hadits yang disebutkan oleh Syaikh di bab ini.
العَاشِرَةُ: النَّصُّ عَلَى أَنَّ الأَرْضِينَ سَبْعٌ كَالسَّمَاوَاتِ
Yang ke-10, nash bahwasanya bumi ini jumlahnya ada tujuh sebagaimana langit. Dan ini, kalau memang hadits ini shahih, maka bisa diambil faedahnya bahwasannya bumi ini jumlahnya ada tujuh sebagaimana langit juga tujuh.
Dan di dalam ayat Allāh ﷻ mengatakan:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ
Allāh, Dia-lah yang menciptakan tujuh langit dan dari bumi yang semisalnya. (QS. Aṭh-Ṭhalāq: 12)
Ada sebagian ulama yang mengatakan, yang dimaksud “yang semisalnya” di sini adalah bahwasanya bumi juga jumlahnya ada tujuh. Allāhu ta’ala a’lam.
الحادِيَةَ عَشْرَةَ: أَنَّ لَهُنَّ عُمَّارًا
Yang ke-11, bahwasanya langit-langit atau bumi-bumi itu memiliki ʿummarān, memiliki penghuni-penghuni.
الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ: إِثْبَاتُ الصِّفَاتِ خِلَافًا لِلأَشَاعِرَةِ
Yang ke-12, di dalam Hadits-Hadits yang kita sebutkan, ada penetapan sifat bagi Allāh, berbeda dengan apa yang diyakini oleh Asyāʿiriyyah, karena disebutkan tentang yabtaghī bidzālika Wajh Allāh (mengharapkan Wajah Allāh). Berarti kita harus menetapkan bahwasanya Allāh memiliki Wajah dan bahwasanya Allāh memiliki sifat bicara, karena Allāh mengatakan:
قُلْ يَا مُوسَى لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
Katakanlah, wahai Musa, lā ilāha illallāh. (QS. Ash-Shaff: 6, sebagian riwayat hadits)
Dan dalam Hadits Qudsi: يَا ابْنَ آدَمَ, Wahai anak Adam, menunjukkan bahwasanya Allāh memiliki sifat berbicara. Maka kita tetapkan sesuai dengan keagungan-Nya.
الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ: أَنَّكَ إِذَا عَرَفْتَ حَدِيثَ أَنَسٍ، عَرَفْتَ أَنَّ قَوْلَهُ فِي حَدِيثِ عُتْبَانَ: “فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، يَبْتَغِي بِذٰلِكَ وَجْهَ اللهِ” أَنَّ تَرْكَ الشِّرْكِ، لَيْسَ قَوْلَهَا بِاللِّسَانِ
Yang ke-13, kalau engkau memahami Hadits Anas ini, dan memahami sabda Nabi ﷺ dalam Hadits ʿItbān, bahwasanya Allāh mengharamkan atas Neraka orang yang mengatakan lā ilāha illallāh karena mencari Wajah Allāh, maka engkau mengetahui bahwasanya meninggalkan kesyirikan bukan hanya sekadar dengan lisan saja, mengatakan lā ilāha illallāh, tapi dia harus ikhlas di dalam hatinya.
الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ: تَأَمَّلِ الْجَمْعَ بَيْنَ كَوْنِ عِيسَى وَمُحَمَّدٍ عَبْدَيِ اللهِ وَرَسُولَيْهِ
Yang ke-14, perhatikanlah jamaʿ antara ʿĪsā dan juga Muḥammad ﷺ, bahwasanya keduanya adalah hamba Allāh dan juga Rasul-Nya. Kalau seseorang mengatakan dan meyakini bahwasanya ʿĪsā adalah hamba Allāh dan juga Rasul-Nya, karena di sana ada orang yang menyembah ʿĪsā, ketahuilah bahwasanya Nabi Muḥammad ﷺ juga demikian, yaitu beliau adalah hamba Allāh dan juga Rasul-Nya. Allāhu aʿlam. Karena dikhawatirkan di sana ada orang yang meyakini bahwasanya Nabi Muḥammad ﷺ memiliki sifat-sifat ketuhanan.
الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ: مَعْرِفَةُ اخْتِصَاصِ عِيسَى بِكَوْنِهِ كَلِمَةَ اللهِ
Yang ke-15, mengenal bahwasanya ʿĪsā memiliki kekhususan, yaitu beliau adalah Kalimat Allāh. Bahwasanya beliau diciptakan oleh Allāh ﷻ dengan kalimat Allāh, yaitu kun, karena beliau tidak memiliki bapak, hanya memiliki seorang ibu. Bagaimana bisa terjadi? Ya, dengan kalimat Allāh kun.
السَّادِسَةَ عَشْرَةَ: مَعْرِفَةُ كَوْنِهِ رُوحًا مِنْهُ
Yang ke-16, mengenal bahwasanya ʿĪsā adalah ruh dari Allāh.
السَّابِعَةَ عَشْرَةَ: مَعْرِفَةُ فَضْلِ الْإِيمَانِ بِالْجَنَّةِ وَالنَّارِ
Yang ke-17, mengenal tentang keutamaan beriman dengan Surga dan juga Neraka.
الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ: مَعْرِفَةُ قَوْلِهِ: “عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ
Yang ke-18, memahami makna sabda Nabi ﷺ “bagaimanapun amal yang dia lakukan”. Maksudnya adalah termasuk di antaranya, seandainya orang yang bertauhid melakukan amal yang rusak, yaitu amal maksiat, maka dengan Tauhid yang dia miliki itu adalah modal bagi dia untuk masuk ke dalam Surga.
التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ: مَعْرِفَةُ أَنَّ الْمِيزَانَ لَهُ كَفَّتَانِ
Yang ke-19, mengenal bahwasanya mīzān ini memiliki dua daun timbangan. Yaitu mīzān yang ada di hari kiamat ini memiliki dua daun timbangan, tentunya berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Ḥibbān dan al-Ḥākim.
الْعِشْرُونَ: مَعْرِفَةُ ذِكْرِ الْوَجْهِ
Yang ke-20, mengenal penyebutan al-Wajh, yaitu sifat Wajah bagi Allāh ﷻ, yang disebutkan dalam Hadits Itsban yabtaghī bidzālika Wajh Allāh, dia mencari dengan kalimat lā ilāha illallāh tadi Wajah Allāh ﷻ.
Baik, itulah bab yang kedua di dalam Kitab Tauhid ini dan beberapa faedah yang disebutkan oleh Syaikh di dalam bab yang kedua ini. Ada di antaranya yang berkaitan langsung dengan judul, dan ada di antaranya faedah-faedah yang lain yang bisa dicerna dan bisa diambil manfaatnya oleh seorang yang mempelajari kitab ini.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Tidak ada komentar:
Posting Komentar