Kamis

DOWN LOAD TERJEMAHAN TSALATSATUL USHUL

 



Halaqah 100 | Poin-Poin Penutup – Makna la ilaha illallah

 

Halaqah 100 | Poin-Poin Penutup – Makna لآ اله الا الله

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah
🖊 Ilmiyyah.com

============================

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-100 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At Tamimi rahimahullāh.

Kemudian beliau mengatakan

والدليل قوله تعالى

dan dalil, yaitu dalil tentang keharusan untuk kufur dengan thogut dan beriman kepada Allah ﷻ, adalah Firman Allah ﷻ

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْد مِن الْغَي فَمَن يَكْفُرْ بالطَّاغُوت وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انَفِصَام لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ [البقرة:256

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْد مِن الْغَي

Tidak ada paksaan didalam agama, karena agama ini indah tidak perlu seseorang dipaksa untuk memasuki sesuatu yang indah

قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْد مِن الْغَي

sudah jelas

فَمَن يَكْفُرْ بالطَّاغُوت, فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انَفِصَام لَهَا

barang siapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah ﷻ maka sungguh dia telah berpegang teguh dengan tali Allah ﷻ yang sangat kuat.

الْوُثْقَى ini adalah mu’annats dari al-autsaq, wazannya fu’la, sebagaimana al-kubro adalah adalah mu’annats dari akbar, ash-shughro adalah mu’annats dari ashghar, husna mu’annats dari ahsan.

بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

adalah berpegang teguh dengan tali yang sangat kuat

لَا انَفِصَام لَهَا

tidak akan terputus, tidak akan terurai,

وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

dan Allah ﷻ dia adalah Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Beriman dengan Allah ﷻ dan kufur dengan thogut adalah sebuah kewajiban berdasarkan ayat ini dan dia adalah sebab thabatnya dan tetapnya seseorang di atas agama Allah ﷻ.

Kemudian beliau mengatakan,

وهذا هو معنى لا إله إلا الله

الكفر بالطَّاغُوت وَالإِيمَان بِاللّهِ

Inilah makna لا إله إلا الله karena لا إله yaitu كفر بالطَّاغُوت dan إلا الله yaitu الإِيمَان بِاللّهِ

 وهذا هو معنى لا إله إلا الله yaitu الكفر بالطَّاغُوت وَالإِيمَان بِاللّهِ. Ini adalah makna لا إله إلا الله.

Kemudian beliau mengatakan

وفي الحديث

Di dalam sebuah hadits

رأس الأمر الإسلام، وعموده الصلاة، وَذِرْوَةُ سنامه الجهادُ في سبيل الله

Di dalam sebuah hadits, dan hadits ini beliau bawakan ingin menunjukkan kepada kita bahwasanya kalimat لا إله إلا الله yang merupakan kalimat yang intinya beriman kepada Allah ﷻ dan kufur kepada thaghut, dia adalah sesuatu yang sangat mulia di dalam agama Islam, dia adalah yang paling tinggi, syahidnya di sini.

رأس الأمر الإسلام

Ucapan beliau رأس الأمر menunjukkan bahwasanya ini adalah perkara yang paling penting, yang paling tinggi, karena رأس adalah suatu yang paling penting di dalam badan kita.

Yang paling penting diantara perkara-perkara ini adalah الإسلام karena makna Islam الإِسْتِسْلَامُ لِلهِ بِالتَّوْحِيْدِ, menyerahkan diri kepada Allah ﷻ dengan tauhid. Berarti tauhid adalah رأس الأمر, tauhid ini adalah kepalanya yang paling penting di dalam perkara-perkara kita. Beliau mendatangkan hadits ini karena menguatkan tentang kewajiban الكفر بالطَّاغُوت وَالإِيمَان بِاللّهِ dan ini adalah makna Islam, dan Islam kedudukan didalam seluruh perkara dia adalah رأس nya, dia adalah intinya, dia adalah kepalanya.

وعموده الصلاة

Dan tiangnya adalah shalat

وَذِرْوَةُ سنامه الجهادُ في سبيل الله

dan ذِرْوَةُ سنامه maksudnya adalah yang menguatkan karena ذِرْوَةُ artinya adalah yang atas, سنام artinya adalah punuk, sanaamul ibil maksudnya adalah punuk unta, ذِرْوَةُ سنامه yaitu yang bagian paling atas dari punuknya maksudnya adalah yang menguatkan Islam ini, yang menguatkan Islam ini adalah جهاد في سبيل الله. Kalau ditinggalkan jihad padahal saat itu adalah sebuah kewajiban kemudian kaum muslimin meninggalkan jihad maka ini menjadi kehinaan dan akan menjadi kelemahan bagi mereka, tapi ketika mereka mendirikan dan menegakkan syiar Allah جهاد في سبيل الله dan saat itu merupakan kewajiban bagi mereka, maka ini menjadi penguat bagi Islam

وَذِرْوَةُ سنامه الجهادُ في سبيل الله

Dia adalah penguatnya, punuk yang paling atas, وَذِرْوَةُ adalah yang paling puncak, puncak dari punuknya adalah جهاد في سبيل الله maksudnya adalah yang menguatkan Islam.

Jangan dipahami bahwasanya jihad itu yang paling atas yang paling tinggi, tidak, maksudnya adalah yang menguatkan. Karena sebagian ada yang istisykal, menganggap seperti ada pertentangan, kan disini disebutkan رأس الأمر الإسلام sementara disebutkan وَذِرْوَةُ سنامه. Maksud وَذِرْوَةُ سنامه disini adalah yang menguatkan, kalau sampai ditinggalkan maka akan menjadikan Islam lemah .

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dan juga Ibnu Majah, dan dia adalah hadits yang hasan lighairihi.

Berarti kita memahami kenapa beliau mendatangkan hadits ini, yaitu sahidnya disini pada kalimat رأس الأمر الإسلام, dan الإسلام maknanya adalah الإِسْتِسْلَامُ لِلهِ بِالتَّوْحِيْدِ berarti dia lebih dekat Islam di sini bukan Islam dengan makna al ‘amal adz-dzahir dan bukan Islam dengan makna Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ, tapi dia adalah Islam dengan makna umum yang lebih umum yaitu الإِسْتِسْلَامُ لِلهِ بِالتَّوْحِيْدِ.

Kemudian beliau mengatakan,

والله أعلم

dan Allah ﷻ Dia-lah yang lebih tahu

وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلَّم

dan semoga shalawat Allah ﷻ atas Muhammad ﷺ, keluarganya dan juga para sahabatnya dan juga keselamatan atas mereka semuanya.

Menutup kitab beliau dengan والله أعلم, menyerahkan ilmu semuanya kepada Allah ﷻ, beliau berusaha sebagai ulama menulis sesuai dengan kemampuan beliau tapi tentunya Allah ﷻ Dia-lah yang lebih mengetahui.

Dengan demikian kita telah menyelesaikan kitab yang sangat bermanfaat ini yaitu Al-Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb Ibnu Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh, kita doakan semoga Allah ﷻ membalas beliau dengan balasan yang lebih baik dan menjadikan ilmu yang kita dapatkan dari buku ini adalah ilmu yang bermanfaat yang mewariskan amalan dan mewariskan rasa takut kepada Allah ﷻ.

الله تعالى أعلم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

________________________

image_pdfimage_print

Halaqah 99 | Poin-Poin Penutup – Lima Pembesar Thagut

 

Halaqah 99 | Poin-Poin Penutup – Lima Pembesar Thagut

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah
🖊 Ilmiyyah.com

============================

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-99 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At Tamimi rahimahullāh.

Kemudian Syaikh mengatakan

والطواغيت كثيرون

Dan thogut-thogut ini banyak, baik dari ma’budaat au mathbu’aat au mutha’aat (sesuatu yang disembah atau diikuti atau di taati) ini banyak,

ورؤوسهم خمسةٌ

tapi yang menjadi رؤوس, yang menjadi kepala diantara thogut-thogut tadi adalah lima, berarti mereka ini adalah kepala kepalanya طواغيت. Kita diperintahkan untuk menjauhi mereka baik yang رؤوس maupun yang bukan رؤوس kita diperintahkan untuk menjauhi mereka,

وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

Hendaklah kalian menjauhi thagut, baik yang ro’is maupun yang bukan ro’is. Tapi di sini beliau karena nushah beliau, beliau  memberikan peringatan kepada kita tentang رؤوس nya menunjukkan bahwasanya 5 رؤوس طواغيت inilah yang paling berbahaya.

ورؤوسهم خمسةٌ

kepala-kepala mereka adalah ada 5

إبليس لعنه الله

yang pertama adalah iblis dan dia adalah ro’isu ru’us, kepalanya kepala-kepalanya طواغيت tadi dan tidaklah thagut-thagut yang lain menjadi thogut kecuali karena disimpangkan oleh iblis. Jadi dia yang menjadikan yang lain ini menjadi thogut. Yang membisikkan kepada orang yang diulama’kan, yang di ‘alimkan sehingga dia ridho untuk dima’sumkan, iblis yang membisikkan kepadanya. Yang menjadikan seorang amir umaro’ ditaati didalam kemaksiatan dan dia ridho ditaati dalam kemaksiatan ini juga iblis, maka dia adalah yang paling berbahaya oleh karena itu dijadikan disini yang pertama.

إبليس لعنه الله

Iblis semoga Allah ﷻ melaknat dia, semoga Allah ﷻ melaknat dia yaitu menjauhkan dia dari rahmat Allah ﷻ.

Kemudian yang kedua,

ومن عبد وهو راض

Dan orang yang disembah sedangkan dia dalam keadaan ridho, yaitu ridho untuk disembah, dia disembah, tidak mengajak kepada manusia, disembah kemudian dia senang, gembira dan bahagia ketika disembah oleh manusia maka ini adalah thogut.

ومن ادَّعى شيئاً من علم الغيب

Dan orang yang mengaku mengetahui tentang ilmu yang ghaib, masuk di dalamnya peramal karena dia mengaku mengetahui ilmu yang ghaib di masa yang akan datang, peramal dengan berbagai jenisnya.

Kadang ada orang meramal dengan melihat bintang, pura-pura dia melihat bintang, demikian dan demikian, atau tanggal lahir seseorang dan diketahui dia bintang apa maka kemudian dia berbicara kamu akan demikian dan demikian, atau orang yang meramal dengan melihat mangkok, datangkan mangkok kemudian dia pura-pura melihat disitu ada gambarnya dan seterusnya, atau dia meramal pura-pura melihat tangan, dilihat tangannya, garisnya, atau dia meramal dengan membuat garis-garis di atas tanah kemudian setelah itu entah bagaimana kalau misalnya dihilangkan kemudian tersisa 3 berarti demikian, kalau tersisa 5 maka demikian.

Ini cara orang menipu manusia banyak, padahal intinya sebenarnya dia tidak tahu ilmu yang ghoib cuma bergaya saja, pura-pura melihat sesuatu, oh kamu berarti nanti demikian, seakan-akan ada hubungannya antara mangkok dengan apa yang terjadi di masa yang akan datang, antara garis-garis tadi dengan apa yang terjadi di masa yang akan datang, padahal tidak ada apa-apanya.

Orang yang mengaku dia mengetahui ilmu yang ghoib maka dia termasuk thogut karena tidak ada yang mengetahui ilmu yang ghoib kecuali Allah ﷻ

Allah ﷻ mengatakan

عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا  ٢٦ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ  الجن:26-27

Dan Allah ﷻ mengatakan

قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ   [ النمل:65

Katakanlah tidak ada yang mengetahui siapa yang ada di langit maupun siapa yang ada di bumi ٱلۡغَيۡبَ, perkara yang ghoib, kecuali Allah ﷻ

Maka kalau ada orang yang mengaku dia mengetahui ilmu yang ghoib jelas dia adalah pendusta dan dia telah mendustakan Al-Quran, karena Al-Quran berisi tidak ada yang mengetahui ilmu yang ghoib kecuali Allah ﷻ.

Yang keempat,

ومن دعا الناس إلى عبادة نفسه

Orang yang mengajak manusia untuk beribadah kepada dirinya.

Kalau yang tadi, dia sudah disembah dan dia ridho meskipun dia tidak mengajak maka dia thogut. Ada orang yang menyembah dirinya meskipun dia tidak mengajak dan dia ridho maka dia thogut.

Adapun yang keempat orang yang mengajak manusia untuk beribadah kepada dirinya, berhasil atau tidak berhasil kalau dia mengajak manusia beribadah kepada dirinya maka dia adalah thogut. Mungkin dia koar-koar mengajak manusia untuk beribadah kepada dirinya ternyata tidak ada yang beribadah kepada dirinya maka dia adalah thogut, hanya sekedar mengajak itu sudah thogut

ومن حكم بغير ما أنزل الله

Dan barangsiapa yang berhukum dengan selain hukum Allah ﷻ.

Ini juga termasuk thogut apabila dia berhukum dengan selain hukum Allah dan meyakini bahwasanya hukum tersebut lebih baik daripada hukum Allah, maka dia adalah thogut. Maka ini adalah 5 perkara yang disifati oleh Syaikh rahimahullah bahwasanya mereka adalah رؤوس الطَّاغُوت.

الله تعالى أعلم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

________________________

image_pdfimage_print

Halaqah 98 | Poin-Poin Penutup – Kewajiban Untuk Kufur Kepada Thagut Dan Perintah Untuk Beriman Kepada Allah

 

Halaqah 98 | Poin-Poin Penutup – Kewajiban Untuk Kufur Kepada Thagut Dan Perintah Untuk Beriman Kepada Allah

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah
🖊 Ilmiyyah.com

============================

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-98 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At Tamimi rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وافترض الله على جميع العباد الكفر بالطاغوت، والإيمان بالله

Allah ﷻ mewajibkan kepada seluruh hamba untuk mengkufuri thaghut dan beriman kepada Allah ﷻ

Dan ini adalah dakwahnya para nabi dan juga para rasul, dan di dalam ayat yang lain Allah ﷻ mengatakan,

فَمَن يَكْفُرْ بالطَّاغُوت وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انَفِصَام لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

sebagaimana nanti akan disebutkan. Maka hukumnya wajib untuk kufur dengan thaghut dan ini adalah perintah

اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

dan asal dari perintah adalah kewajiban, maka kufur dengan thoghut mengingkari thoghut ini adalah sebuah kewajiban sebagaimana beriman kepada Allah ﷻ ini juga merupakan sebuah kewajiban.

Thoghut diambil dari kata

 طغى – يطغى – طغيا

yang arti طغى ini adalah melampaui batas (mujawazatu al-Had).

Di dalam Al-Quran Allah ﷻ ketika menceritakan tentang air besar yang ada di zaman Nabi Nuh عليه السلام, banjir bandang melampaui batas air tersebut, Allah ﷻ mengatakan

إِنَّا لَمَّا طَغَا ٱلۡمَآءُ حَمَلۡنَٰكُمۡ فِي ٱلۡجَارِيَةِ  الـحاقّـة:11

sesungguhnya ketika air itu sudah melampaui batas maka Kami mengangkut kalian, membawa kalian di dalam perahu ketika air sudah mulai melampaui batas, sehingga dikhawatirkan tenggelam Kami bawa kalian Kami angkut kalian di dalam ٱلۡجَارِيَةِ. Berarti طغيا طَّاغُوت itu berasal dari kata طغى – يطغى yaitu melampaui batas (mujawazatu al-Had), mujawazah artinya adalah melampaui, Al-Haddi artinya adalah batas. Segala sesuatu yang melampaui batas maka ini dinamakan dengan thaghut.

Kita lihat ucapan Ibnul Qayyim

قال ابن القيم -رحمه الله تعالى

dan ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim di dalam kitab beliau I’lamul-Muwaqqi’in

والطاغوت كل ما تجاوز به العبد حده من معبود أو متبوع أو مطاع

dan yang dimaksud dengan dengan thaghut kata beliau adalah segala sesuatu yang seorang hamba melebihi batasnya, maka itu dinamakan dengan thagut, baik thaghut tersebut berupa yang pertama adalah ma’bud atau yang kedua berupa mathbu’ atau yang ketiga berupa mutho’.

Yang berupa ma’bud, segala sesembahan selain Allah ﷻ dan dia ridho disembah maka itu adalah thagut, karena ini sudah melampaui batas-batasnya, yang namanya ibadah hanyalah untuk Allah ﷻ saja. Kalau sampai ibadah tadi keluar dan diserahkan kepada selain Allah ﷻ dan dia ridho disembah selain Allah ﷻ maka dia adalah thoghut, karena ibadah batasnya hanya untuk Allah ﷻ saja. Dia keluarkan ibadah tadi kepada selain Allah ﷻ, diserahkan kepada selain Allah ﷻ, dan ridho disembah dan di ibadahi maka dia adalah thaghut.

Atau dia thoghut berupa sesuatu yang diikuti, seperti misalnya para ulama atau orang yang diulamakan, mereka adalah mathbu’. manusia mengikuti dia, meniru dia. Batasnya yang namanya ulama itu adalah diikuti selama dia berpegang dengan dalil, apa yang diucapkan sesuai dengan dalil, apa yang dilakukan sesuai dengan dalil, itu batasnya. Kalau sampai melebihi batas artinya sampai diikuti dia di dalam perkara yang tidak ada dalilnya atau yang menyelisihi dalil, keluar batas sampai di ikuti ulama tadi di dalam perkara yang tidak sesuai dengan dalil dan dia ridho diikuti dengan cara seperti itu maka dia adalah thaghut.

Jadi seorang yang diulamakan oleh manusia dan dia ridho manusia menganggap dia ma’sum, menganggap dia benar semuanya, mengikuti dia dan menyuruh manusia untuk mengikuti dia di dalam benarnya di dalam salahnya maka ini adalah thaghut. Ada thoghut berupa ma’bud dan ada thoghut berupa mathbu’.

Dan ada thaghut berupa mutho’, yang ditaati, mereka adalah umaro’, di dalam Islam taat kepada umaro’ ada batasnya, yaitu فِي مَعْرُوفِ

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Sesungguhnya ketaatan itu hanya di dalam ma’ruf saja

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

tidak ada ketaatan terhadap makhluk di dalam kemaksiatan kepada Allah ﷻ.

Jadi umaro’ ditaati tapi ada batasnya yaitu selama tidak maksiat. Ulama diikuti selama berpegang dengan dalil, ada batasnya. Kalau sudah keluar bata,s sampai amaro’ amir ditaati dalam perkara kemaksiatan dan dia ridho ditaati dalam kemaksiatan maka dia adalah thoghut. Kalau seorang pemimpin, seorang amir, ridho ditaati dalam kemaksiatan, di dalam perkara yang bertentangan dengan dalil maka dia adalah thoghut karena batasnya hanya sebatas di dalam ma’ruf saja, di dalam kebaikan saja.

Makanya ta’rif dari Ibnul Qayyim ini adalah ta’rif yang bagus sekali, jadi dia bukan hanya thaghut dengan makna yang di ibadahi dan dia ridho selain Allah ﷻ tapi juga masuk di dalamnya adalah mathbu’, seorang yang diulamakan dan dia ridho untuk diikuti di dalam kemaksiatan, demikian pula umaro’ yang dia ridho ditaati oleh rakyatnya di dalam kemaksiatan.

Adapun kalau dia tidak ridho disembah oleh manusia dan dia tidak ridho diikuti oleh manusia, dianggap dia ma’sum padahal dia tidak ridho dianggap sebagai orang yang ma’sum. Ditaati oleh manusia dianggap ucapan dia adalah ucapan Allah ﷻ, perintah dia adalah perintah Allah ﷻ, tapi dia tidak ridho disikapi seperti itu maka mereka tidak dinamakan dengan thoghut. Seperti nabi ‘Isa عليه السلام disembah oleh orang-orang Nasrani dan dia tidak ridho disembah.

مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ [ المائدة:117

Para ulama ahlussunnah, Imam Syafi’i sebagian ghuluw terhadap beliau, Imam Malik sebagian ghuluw terhadap beliau, Imam Ahmad sebagian ghuluw terhadap beliau, tetapi mereka tidak ridho. Imam Malik mengatakan,

كل يُؤخذ من كلامه ويُرد إلا صاحب هذا القبر

Masing-masing bisa ditolak dan diterima ucapannya kecuali yang memiliki kuburan ini, beliau mengisyaratkan kepada kuburan Rasulullah ﷺ. Al-Imamu Ahmad mengatakan,

عجبت لقوم عرفوا الإسناد وصحته ويذهبون إلى رأي سفيان

Aku heran dengan sebuah kaum yang mereka mengetahui tentang hadits dan mengetahui tentang sahihnya hadits tersebut tapi mereka lebih memilih ucapan Sufyan, yaitu Sufyan Ats-Tsauri.

Ini adalah ucapan Imam Malik, ucapan Imam Ahmad yang menunjukkan bahwasanya mereka tidak ridho dengan orang yang meyakini bahwasanya mereka ma’sum, meyakini bahwasanya pasti benar. Bahkan keluar dari lisan mereka ucapan yang mengharuskan umat untuk mendahulukan ucapan Rasulullah ﷺ diatas ucapan manusia. Adapun mereka maka bisa salah bisa benar.

 

الله تعالى أعلم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

________________________

image_pdfimage_print

Halaqah 97 | Poin-Poin Penutup – Tentang Hubungan Para Rasul Dengan Tauhid

 

Halaqah 97 | Poin-Poin Penutup – Tentang Hubungan Para Rasul Dengan Tauhid

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah
🖊 Ilmiyyah.com

============================

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-97 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At Tamimi rahimahullāh.

Beliau menggandengkan dan menghubungkan antara rasul-rasul tadi dari Nuh sampai Muhammad ﷺ dengan tauhid, beliau mengatakan

 وكل أمة بعث الله إليهم رسولاً من نوحٍ إلى محمد ﷺ

Dan setiap umat yang Allah ﷻ utus kepadanya seorang rasul, karena tadi berbicara tentang rasul

من نوحٍ إلى محمد ﷺ

dari Nuh sampai Muhammad ﷺ

يأمرهم بعبادة الله وحده، وينهاهم عن عبادة الطاغوت

rasul tersebut yang diutus dari Nuh sampai Muhammad ﷺ memerintahkan mereka, memerintahkan umat tersebut, yang pertama adalah memerintahkan mereka untuk beribadah kepada Allah ﷻ saja,

وينهاهم عن عبادة الطاغوت

dan melarang mereka dari beribadah kepada taghut.

Ada itsbat ada nafyun, memerintahkan mereka beribadah kepada Allah ﷻ saja dan melarang mereka untuk beribadah kepada taghut, ini adalah kalimat tauhid لا إله إلا الله. Seluruh para rasul dari rasul yang pertama sampai rasul yang terakhir dan sudah kita sebutkan beberapa dalil, baik dalil yang umum maupun dalil yang khusus yang menunjukkan bahwasanya para nabi dan rasul kalimat mereka satu yaitu

أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

Disini ketika berbicara tentang beriman dengan para rasul kembali beliau menghubungkan antara para rasul tersebut dengan dakwah tauhid, karena sekali lagi tauhid ini adalah asal dari semuanya, dia adalah sebab kita diciptakan oleh Allah ﷻ dan dia adalah inti dari dakwahnya para nabi dan rasul, dan dia adalah inti dari isi kitab yang diturunkan oleh Allah ﷻ.

Allah ﷻ mengatakan didalam surat Hud

كِتَٰبٌ أُحۡكِمَتۡ ءَايَٰتُهُۥ ثُمَّ فُصِّلَتۡ مِن لَّدُنۡ حَكِيمٍ خَبِيرٍ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَۚ

Inti dari kitab yang diturunkan oleh Allah ﷻ adalah

أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَۚ

janganlah kalian menyembah kecuali hanya kepada Allah ﷻ saja.

Makanya di sini beliau karena keutamaan tauhid dan bahwasanya tauhid ini adalah asal dari semuanya, ketika membahas tentang iman kepada rasul beliau membahas dan menghubungkan antara para rasul tadi dengan tauhid. Sebagaimana sebelum-sebelumnya membahas tentang ma’rifatullah jelas berhubungan dengan tauhid, ketika membahas tentang agama Islam tentang istislamu lillah bittauhid, kemudian ketika membahas Rasulullah Muhammad ﷺ membahas bahwasanya dakwah beliau adalah dakwah kepada tauhid, membahas tentang Al-Mudatsir dan misi beliau adalah berdakwah kepada tauhid, dan sekarang ketika membahas tentang beriman kepada para rasul demikian pula beliau hubungkan dengan tauhid.

والدليل قوله تعالى

Dalilnya adalah Firman Allah ﷻ

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ [النحل:36

Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul supaya kalian menyembah kepada Allah ﷻ saja dan hendaklah kalian menjauhi thaghut.

أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ

Ini adalah dalil

يأمرهم بعبادة الله وحده

وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

dalil bahwasanya mereka melarang dari ibadatitthaghut.

Ini satu diantaranya dalil-dalil yang menunjukkan tentang inti dakwah dari para nabi dan juga rasul, dan sudah kita sebutkan dalil yang lain

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ

dan juga Firman Allah ﷻ

وَٱذۡكُرۡ أَخَا عَادٍ إِذۡ أَنذَرَ قَوۡمَهُۥ بِٱلۡأَحۡقَافِ وَقَدۡ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦٓ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَ

Itu adalah dakwah para nabi dan rasul baik sebelum Nabi Hud maupun setelah Nabi Hud. Kemudian juga dalil-dalil yang khusus sudah pernah kita sebutkan

لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمۡ هُودٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۖ

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ

وَإِلَىٰ مَدۡيَنَ أَخَاهُمۡ شُعَيۡبٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥ

Ini adalah dalil-dalil khusus bagaimana para nabi dan para rasul dahulu mereka berdakwah dengan kalimat لا إله إلا الله.

 

الله تعالى أعلم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

________________________

image_pdfimage_print

Halaqah 96 | Poin-Poin Penutup – Nabi Muhammad ﷺ Adalah Nabi dan Rasul Terakhir

 

Halaqah 96 | Poin-Poin Penutup – Nabi Muhammad ﷺ Adalah Nabi dan Rasul Terakhir

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah
🖊 Ilmiyyah.com

============================

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-96 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At Tamimi rahimahullāh.

Kemudian beliau mendatangkan firman Allah ﷻ dan dalilnya, yaitu dalil bahwasanya beliau ﷺ adalah nabi yang terakhir dan otomatis kalau nabi yang terakhir berarti tidak ada rasul setelahnya, tidak ada nabi setelahnya.

قوله تعالى

Firman Allah ﷻ

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ

Tidaklah Muhammad bapak salah seorang di antara laki-laki dewasa kalian,

karena anak laki-laki beliau tidak ada yang sampai dewasa, yang sampai dewasa hanya yang perempuan saja. Anak laki-laki beliau Ibrahim, Abdullah, Al-Qasim. Abdullah dan juga Al-Qasim dilahirkan oleh Khadijah dan keduanya meninggal ketika keduanya masih kecil. Adapun Ibrahim maka ini adalah putra beliau dari Maria, budak Nabi ﷺ, dan Ibrahim juga meninggal ketika masih kecil, jadi tidak ada anak laki-laki beliau ﷺ yang tumbuh sampai dewasa. Adapun yang wanita maka tumbuh sampai dewasa, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan juga Fatimah, maka keempat-empatnya sampai dewasa.

Muhammad bukanlah bapak salah seorang diantara laki-laki dewasa kalian

وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ

tapi beliau adalah Rasulullah

وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ

dan beliau adalah penutup para nabi.

Dan keyakinan bahwasanya beliau ﷺ adalah penutup para nabi maka ini adalah termasuk dharuriyyat, perkara yang darurat, artinya seluruh muslim baik yang laki-laki maupun wanita mereka pasti meyakini bahwasanya Muhammad ﷺ adalah nabi yang terakhir. Sesuatu yang darurat semuanya meyakini yang demikian sehingga kalau sampai ada yang tidak meyakini bahwasanya beliau ﷺ adalah nabi yang terakhir maka dia bukan muslim.

Barang siapa yang meyakini bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ bukan nabi yang terakhir maka dia bukan seorang muslim karena keyakinan seperti ini adalah termasuk dharuriyyat. Sehingga apabila di sana ada orang yang mengaku menjadi nabi, dan ini banyak sekali di negara kita, dan para ulama menjelaskan semakin banyak kebodohan di sebuah daerah maka akan semakin banyak orang yang mengaku menjadi nabi, semakin jauh dari ilmu maka akan semakin banyak di sana orang yang mengaku menjadi nabi.

Di Indonesia kalau kita hitung banyak sekali, ada yang perempuan, juga ada yang mengaku menjadi nabi, ada yang sempat katanya bertapa di sebuah gunung kemudian turun dia mengaku menjadi nabi bahkan sempat masuk televisi meskipun akhirnya dia bertobat, bertobat menjadi seorang nabi. Maka ini menunjukkan tentang banyaknya kebodohan dan seandainya muncul maka tidak boleh ada keraguan didalam hati seseorang bahwasanya dia adalah seorang yang kadzab, seorang pendusta. Jangan sampai ada, dan ini tidak mungkin ada di dalam hati seorang muslim, jangan-jangan dia benar seorang nabi, ini tidak ada dalam hati seorang muslim. Pasti dia langsung mengatakan dia adalah kadzab, dia adalah seorang pendusta.

Kemudian yang menjadi pertanyaan di sini kenapa beliau ketika menyebutkan

أولهم نوح وآخرهم محمد

tapi ketika menyebutkan tentang dalil yang didahulukan adalah dalil Muhammad ﷺ baru setelah itu dalil yang menunjukkan bahwasanya Nuh adalah yang pertama, dilompatin,

وأولهم نوح عليه السلام، وآخرهم محمد ﷺ وهو خاتم النبيِّين لا نبى بعده

kemudian

والدليل قوله تعالى

yang didahulukan adalah dalil yang menunjukkan bahwasanya Muhammad ﷺ adalah nabi yang terakhir, baru setelah itu mendatangkan dalil yang menunjukkan bahwasanya Nuh adalah rasul yang pertama.

Disini didahulukan Muhammad ﷺ karena untuk tasyrif yaitu memuliakan Nabi Muhammad ﷺ dan mentaqdim beliau ﷺ. Meskipun beliau ﷺ adalah rasul yang terakhir tetapi beliau ﷺ lebih utama daripada Nabi Nuh عليه السلام sehingga didahulukan sebelum mendatangkan dalil yang menunjukkan bahwasanya Nuh adalah rasul yang pertama.

Dan kalau kita kembali kepada ta’rif bahwasanya rasul ini diutus kepada kaum yang mukholifin, menyelisihi di dalam masalah tauhid, maka kita dapatkan Nuh عليه السلام memang diutus kepada kaum yang menyelisihi beliau di dalam masalah tauhid. Karena kesyirikan yang pertama ini muncul di zaman Nabi Nuh عليه السلام, menyelisihi di dalam masalah tauhid sehingga sangat benar sekali apabila dikatakan oleh Nabi Adam عليه السلام

ائْتُوا نُوحًا أَوَّل رَسُولٍ بَعَثَهُ اللَّهُ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ

Hendaklah kalian mendatangi Nuh, rasul yang pertama yang diutus oleh Allah ﷻ kepada penduduk bumi.

الله تعالى أعلم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

________________________

image_pdfimage_print

Halaqah 95 | Poin-Poin Penutup – Kenabian Sudah Ditutup Maka Pasti Tidak Ada Rasul Lagi

 

Halaqah 95 | Poin-Poin Penutup – Kenabian Sudah Ditutup Maka Pasti Tidak Ada Rasul Lagi

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasah
🖊 Ilmiyyah.com

============================

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-95 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb At Tamimi rahimahullāh.

Dan hubungan antara rasul yang terakhir dengan nabi yang terakhir, kalau kenabian sudah ditutup maka otomatis kerasulan sudah ditutup, karena nabi lebih luas lebih umum daripada rasul. Sebagaimana dalam hadits, ketika beliau ﷺ ditanya tentang jumlah para nabi

قُلتُ: يا رسولَ اللهِ، كم وَفَّى عِدَّةُ الأنبياءِ؟

Ya Rasulullah, berapa jumlah seluruh para nabi? Beliau mengatakan

مِئةُ ألْفٍ وأربعةٌ وعشرونَ ألْفًا

124.000. Itu jumlah para nabi maka ini jumlah yang sangat banyak sekali, 124.000 Allah ﷻ sebarkan di dunia ini untuk menegakkan hujjah atas manusia.

الرُّسُلُ مِن ذلك ثلاثُ مِئةٍ وخَمسةَ عَشَرَ جَمًّا غَفيرًا

Yang merupakan rasul diantara mereka (yaitu di antara 124.000 ada yang kedudukannya sebagai seorang rasul, الرُّسُلُ مِن ذلك berarti الرُّسُلُ disini adalah bagian dari أنبياءِ karena beliau mengatakan الرُّسُلُ مِن ذلك) adalah 315 orang.

Menunjukkan bahwasanya rasul adalah bagian dari nabi, setiap rasul adalah nabi dan tidak setiap nabi adalah rasul, seperti Rasulullah ﷺ nabiyyan rasulan, beliau mendapatkan wahyu kenabian dan wahyu kerasulan. Berarti 315 ini adalah termasuk nabi ﷺ juga, rasul sekaligus nabi.

Kalau misalnya kenabian sudah ditutup otomatis kerasulan sudah ditutup karena rasul adalah bagian dari kenabian, kalau kenabian sudah di khatam sudah ditutup maka kerasulan otomatis juga ditutup. Disini beliau mengatakan

وآخرهم محمد ﷺ وهو خاتم النبيِّين لا نبى بعده

Beliau ﷺ adalah rasul yang terakhir sekaligus beliau ﷺ adalah nabi yang terakhir karena rasul yang terakhir belum tentu dia nabi yang terakhir tapi kalau nabi yang terakhir berarti otomatis tidak ada rasul setelahnya, tapi kalau dia sebagai rasul yang terakhir kemungkinan ada nabi setelahnya tapi kalau dikatakan kenabian sudah ditutup berarti tidak mungkin ada kerasulan setelahnya.

Kemudian beliau mengatakan,

لا نبى بعده

tidak ada nabi setelahnya, dan beliau mendatangkan kalimat ini karena demikian di dalam hadits, di dalam hadits Nabi ﷺ ketika menyebutkan akan datangnya كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ

وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَأْتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
وَإِنَّهُ سَيَكُونُ في أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ

Akan ada dikalangan umatku, yaitu akan muncul ditengah-tengah umatku كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ, bukan berarti bahwasanya mereka adalah orang yang masih di dalam keislamannya, kalau dia mengaku menjadi nabi setelah Nabi ﷺ jelas dia keluar dari agama Islam. Maksudnya adalah akan muncul di tengah-tengah umatku orang-orang yang pendusta yang jumlah mereka ada 30

كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ

Masing-masing dari mereka menganggap dirinya adalah nabi

وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

dan aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku.

Jadi di dalam matan ini beliau mengatakan

وهو خاتم النبيِّين لا نبى بعده

mengikuti apa yang dikatakan oleh Nabi ﷺ. Dan penyebutan لَا نَبِيَّ بَعْدِي ini tidak sia-sia, dia adalah menjelaskan kalimat خاتم النبيِّين, maknanya لا نبى بعده, tidak ada nabi setelah beliau karena kalimat خاتم bisa maknanya adalah penutup, stempel, sebagaimana stempel itu adalah dilakukan terakhir, kalau semuanya sudah benar baru setelah itu terakhir distempel. خاتم, stempel itu adalah yang terakhir dilakukan, tidak di خاتم kecuali semuanya sudah beres artinya dia adalah yang terakhir kali.

Ada yang mengartikan خاتم disini adalah cincin خاتم, kemudian dia mengatakan yang namanya cincin itu hanya sekedar sebagai perhiasan, artinya beliau ﷺ kata mereka hanyalah perhiasan saja, penghias saja untuk para nabi, pengindah, tidak menunjukkan bahwasanya beliau ini penutup.

Ada yang mengartikan demikian namun tafsir seperti ini batil karena setelahnya Nabi ﷺ mengatakan ‘Tidak ada nabi setelahku’. Dengan adanya kalimat ini kita mengetahui kebatilan orang yang mengartikan خاتم dengan hanya sekedar itu sebagai cincin saja, tetapi maknanya adalah penutup para nabi, sehingga beliau di sini mendatangkan kalimat ini sebagaimana Rasulullah ﷺ juga mendatangkan kalimat yang sama.

وهو خاتم النبيِّين لا نبى بعده

 

الله تعالى أعلم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

________________________

image_pdfimage_print

Postingan Populer